Mulai pekan depan, melalui kerjasama dengan AKDI (Akademi Kesadaran Diri Indonesia), insya Allah segera diselenggarakan kuliah Matematika Detik di program studi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Walisongo Semarang.

Keseluruhan kuliah direncanakan berlangsung selama 10 jam pelajaran atau sekitar 900 menit. Kuliah yang cukup panjang. Saya sendiri nanti hanya mengisi kuliah pembuka. Berikutnya akan disampaikan oleh Ustadz Ade Machnun Saputra dan Master Jodhy Rachman dari AKDI.

Kuliah Matematika Detik hanya diperuntukkan bagi mahasiswa-mahasiswi Tasawuf dan Psikoterapi (TP) UIN Walisongo. Sebuah kehormatan, seorang guru besar matematika di Inggris dan kini pindah ke Uni Emirat Arab, yaitu Profesor Hadi Susanto, tertarik untuk bergabung. “Insya Allah saya siapkan untuk ikut, Ustadz. Jam 9 WIB berarti jam 6 pagi waktu Abu Dhabi.”

Respons Prof Hadi, yang merupakan wisudawan terbaik ITB pada masanya, sungguh tidak terduga. Itu kabar gembira kedua dari seorang guru besar kelas dunia. Sebelumnya Profesor Agus Hasan Budiyanto, seorang guru besar matematika di Amerika Serikat, memesan satu eksemplar Titik Ba. Mudah ditebak ongkos kirimnya di atas satu juta rupiah.

Matematika Detik adalah “cucu” dari Titik Ba. Telah tiba saatnya masuk ke kontestasi gagasan dunia. Bukankah begitu? Selalu terngiang-ngiang di telinga bentakan Mas Tom (almarhum Utomo Dananjaya) untuk tidak berpikir kerdil, untuk siapa bertarung di level dunia.

Relevansi Matematika Detik dengan Tasawuf- Psikoterapi

Mudah bagi masyarakat untuk menerima relevansi Titik Ba dengan tasawuf. Titik Ba memang terinspirasi dari ajaran tasawuf, selain dari fisika modern. Tapi, ini Matematika Detik!

“Mengapa tidak ke Pendidikan Matematika?” tanya Mas Ali Sobirin, peramu Teknologi Ruh yang juga menjabat wakil sekretaris LTM PBNU.

Alasan pertama, saya tidak memilih pengundang. Kami menyambut baik siapapun yang tertarik dengan gagasan Matematika Detik.

Kedua, kerjasama dengan prodi pendidikan matematika dengan beberapa perguruan tinggi terus berjalan. Semua bersifat informal. Tepatnya Matematika Detik khususnya ToSM dijadikan tema untuk skripsi, sehingga saya turut memberikan bimbingan.

Ketiga, Matematika Detik memang sangat relevan dengan psikoterapi. Boleh disebut salah satu profesi yang saya tekuni adalah sebagai seorang psikoterapis. Tujuan psikoterapi dengan Matematika Detik adalah mengembalikan kepercayaan dan kegairahan untuk menggunakan otak sendiri, dan hal itu dimulai dari “asah intuisi, kelola 2 detik pertama”.

Ini yang saya simpulkan. Serupa dengan perindustrian, pendidikan bermaksud untuk menciptakan “nilai tambah”. Sayang sekali, karena diserupakan dengan perindustrian, pendidikan banyak menciptakan limbah. Jutaan manusia hancur karakternya akibat dicap bodoh. Juga tersumbat nalarnya karena tertimbun rumus dan istilah.

Tepat di sini peran Tasawuf dan Psikoterapi sangat relevan. Dengan menjadikan matematika sebagai sarana tazkiyatun naf, semoga bonus demografi tidak bermutasi menjadi bencana demografi. Semoga.

*Ahmad Thoha Faz

MENGATASI “LIMBAH” PENDIDIKAN MATEMATIKA

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *