100 Tokoh terkemuka di duniaSaya anak kedua. Kakak saya, “Muhammad” Nur Yasin, kini seorang ustadz yang mengetuai Yayasan Nidaul Fithrah, Surabaya, salah satu yang diduga oleh KH Said Agil Siradj (ketua umum PBNU) sebagai tempat penyebaran paham radikal.

Tapi bukan itu yang hendak saya ceritakan, karena saya tidak begitu paham duduk masalahnya. Lagi pula, menurut #TitikBa, kesesatan terbesar adalah menganggap jagad raya ini ada. Kedangkalan nalar dan ketumpulan mata hati itulah yang membuat kita terjebak ke dalam prasangka dungu bahwa jagad raya ini ada.

Saya ingin bercerita yang lain. Tentang mengapa saya diberi nama “Ahmad”, bukan “Muhammad”?

Beda dengan “Faz”, nama “Ahmad Thoha” adalah hadiah terindah dari orangtua. Tapi setiap kali saya tanya alasan di balik penamaan saya, bapak saya–seorang ustadz yang masih mengajar alif ba ta hingga kini–hanya senyum. Tepatnya, tidak peduli, tidak menganggap pertanyaan saya. Mungkin juga karena tidak ada jawaban.

Saya tidak percaya kebetulan. Untuk sesuatu yang sangat besar, ya nama adalah sesuatu yang sangat besar bagi penyandangnya, saya tidak terima bila nama saya hanya kebetulan. Maka pencarian serius pun dimulai, sejak saya bisa membaca.

Sampai suatu saat saya membaca tentang buku The 100: The Most Influential Persons in History”. Terbaca di sana, pada 31 Juli 1978, majalah Newsweek di Amerika Serikat membuat geger karena mengulas daftar karya Michael H Hart itu. Pasalnya, Nabi Muhammad ditempatkan di tempat teratas. Di bawahnya ada Isaac Newton, baru Jesus dan seterusnya.

Saya tidak ingin membuka kontroversi itu. Setiap orang punya daftarnya sendiri. Sebagai siswa SMP, saya hanya ingin jawaban, “Mengapa saya diberi nama Ahmad, bukan Muhammad?” Sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak penting bagi anda, tapi luar biasa penting bagi saya, seorang remaja yang sedang menemukan jawaban mengapa saya ada di dunia ini.

Hanya itu, 31 Juli 1978, berita besar yang saya dapatkan. Tepat itulah kelahiran saya, remaja labil yang sampai sekarang mengaku-aku pengikut jejak Kanjeng Nabi.

Tidak ada jawaban, mengapa saya diberi nama Ahmad. Sampai kemudian, saya turut membaca buku What Bible Says About Muhummed PBUH karya Ahmed Deedat. Itu buku kakak saya, hadiah dari gurunya di SMP Penawaja.

Di QS al-shaff (61), tercantum kabar gembira dari nabiyullah ‘Isa bin Maryam (Jesus) bahwa akan datang seorang nabi yang bernama “Ahmad”.

Akhirnya riset panjang seorang remaja labil berakhir bahagia. Jawaban ditemukan!

Itu saja, sudut pandang sok ilmiah mengatakan bahwa itu cuma kebetulan. Tapi lebih tepatnya, saya mencocok-cocokkan diri. Bagi saya, apapun tentang Kanjeng Nabi membuat saya bergetar. Kalau tidak bergetar, saya berusaha menggetarkan diri. Itu namanya resonansi!

Bila adik saya meninggal pada 20 April (tanggal lahir Kanjeng Nabi), lalu adik saya yang lain meninggal pada 8 Juni (tanggal wafat Kanjeng Nabi), semoga saja itu bentuk resonansi dari seorang kotor dan dungu yang mengaku-aku sebagai pengikut Kanjeng Nabi.

Tak terasa, mata saya basah. Baru tersadar, bahwa sekarang ternyata sudah memasuki Maulid. Shollu ‘alan nabiy.

RESONANSI

Tinggalkan komentar

Tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *