Jabat jakarta bandung tegal dan lombokHidup ini jauh lebih indah daripada yang kita harapkan, yang kita pikirkan. Hanya orang terlaknat yang meyakini kebalikannya. Tugas manusia itu untuk terus berprasangka baik, bertindak baik. Itu.

Saya berprasangka baik, bahwa setelah Tegal, Jakarta dan Bandung akan menjadi pusat penyebaran gagasan Matematika Detik. Ternyata Pulau Lombok dan Palembang mendahului.

Jakarta dan Bandung?

Tiba-tiba KH Abdi Kurnia Djohan sekeluarga datang ke rumah. Beliau adalah dosen UI yang pernah memimpin Lembaga Dakwah al-Azhar Jakarta. “Maju terus, menuju Tegal menjadi laboratorium matematika dunia,” kata kyai muda NU ini memberi semangat.

Bandung? Tiba-tiba dosen ITB yang dikenal sebagai filsuf muslim kenamaan Indonesia, Bapak Armahedi Mahzar mengajak diskusi. Optimisme penggagas dan penulis buku INTEGRALISME ISLAM tidak kalah lagi.

Baca Juga : JABAT (JAKARTA – BANDUNG – TEGAL)

“Mudah-mudahan, jika saya sudah bisa belajar (Matematika Detik) dan menerapkannya gerakan-gerakan kita dapat menjadi sebuah gerakan besar A(yo) C(erdaskan) I(ndonesia) luar sekolah yang sedang mulai runtuh karena dilanda tsunami revolusi digital. Gerakan itu akan menjadikan ibu-ibu sebagai pengajar metoda-metoda itu di rumahnya. atau di masjid sekitar rumah dalam bentuk jemaah pembelajaran disamping jamaah pengajian.

Dengan begitu Indonesia bisa menjadi pelopor gerakan pembangkitan peradaban Islam qurun ketiga yaitu qurun ‘alami setelah runtuhnya peradaban Islam qurun ‘arabi yang pertama (yang runtuh karena serbuan tentara Salib dan tentara Mongol) dan qurun ‘ajami yang kedua (yang runtuh karena imperialisme dan kolonialisme Eropa)”.

Saya mulai merasakan semangat yang serupa, tatkala Mas Tom (Utomo Dananjaya) masih hidup. Sementara saya masih meragukan kewarasan otak saya, pendiri Universitas Paramadina itu percaya, bahwa saya bisa merumuskan gagasan berkelas dunia.

Juga Profesor Harsono Taroepratjeka, salah satu pendiri pendidikan teknik industri di Indonesia. Tatkala begitu susah saya meyakinkan teman sebaya, beliau antusias untuk menyebarkan gagasan #TitikBa. Karena beliau pula, kemudian rektor ITB waktu itu, Profesor Djoko Santoso, menganjurkan dan menyebarkan Titik Ba untuk dibaca seluruh dekan di ITB. Padahal saya hanya seorang sarjana yang sempat terancam dropout.

JABAT (Jakarta – Bandung – Tegal) Merambah Ke Lombok

Tinggalkan komentar

Tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *