Sederhananya begini. Matematika Detik Level A “baca angka secepat baca kata” semoga bisa masuk ke kurikulum sekolah, mengikuti jejak jarimatika, menjadi muatan lokal. Jalur lain, menjadi panduan operasional gerakan berantas gagap hitung, mengikuti jejak gerakan berantas buta aksara.

Alhamdulillah, setelah bertapa beberapa minggu, bagian pertama Level A (dari 3 bagian) sudah “selesai”. Sudah saya laporkan ke penerbit PT Intan Pariwara. Senin terdekat, dilaporkan ke Wakil Bupati Tegal.

Suatu kehormatan filsuf muslim, dosen senior di Fisika ITB yang menggagas “Integralisme”, Bapak Armahedi Mahzar, berkenan membaca dan mengajak diskusi. Juga kyai muda dan dosen UI, mantan ketua Lembaga Dakwah al-Azhar Jakarta, Kang KH Abdi Kurnia Djohan.

Guna mewujudkan Matematika Detik sebagai bagian visi-misi Kabupaten Tegal, penting memupuk keberakaran lokal. Pun keterhubungan nasional nasional tidak kalah penting. Oleh karena itu, Poros JABAT (Jakarta, Bandung dan Tegal) semoga sudah efektif pada awal tahun 2018.

Baca Juga : Matematika Detik, Visi dan Misi Kabupaten Tegal

Berbeda dengan seri pertama, “Inspirasi, Fondasi dan Garis Besar”, sebenarnya Level A sangat aplikatif-praktis. Diukur dari #TitikBa yang sangat melangit, saya sudah lama terjun payung. Namun, pandangan filsuf dan teoretikus tetap sangat penting, membuat beban saya terasa berkurang.

Tulisan ini sempat menjadi status di facebook penulis yaitu https://web.facebook.com/ahmad.t.faz dan terjadi diskusi yang sangat menarik antara penulis dengan Bapak Armahedi Mahzar dengan akun facebook https://web.facebook.com/armahedi.mahzar.5.  Berikut kutipan diskusi tersebut.

Armahedi Mahzar:

Setelah membaca naskah pak Thoha, saya menemukan fakta yang menyedihkan. Lalu saya cari di google dapat ini KUALITAS pendidikan di Indonesia sangat tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara maju, khususnya negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Untuk kemampuan membaca saja, Indonesia harus menghabiskan waktu 45 tahun agar mencapai tingkat kemampuan setara mereka.
“Itu hanya untuk yang (kemampuan membaca) . Kalau sains dibutuhkan 75 tahun untuk bisa mengejar ketertinggalan bila sistem pendidikan kita masih kayak gini,” tutur Sri Mulyani.

Link berita yang dikutip beliau : http://mediaindonesia.com/news/read/127328/dalam-kemampuan-membaca-indonesia-tertinggal-45-tahun/2017-10-15

Armahedi Mahzar:

Bagaimana menentukan angka 45 dan 75 tahun itu sangat meragukan. Tetapi Matematika Detik bikinan pak Thoha mungkin bisa memperpendek ketertinggalan itu. Tapi saya kurang percaya, karena metodanya adalah “membaca angka secepat membaca kata” Padahal padanan angka dalam sastra adalah huruf bukan kata. Padanan kata (dalam sastra) di aritmetika sebenarnya adalah bilangan desimal yang dinyatakan oleh rangkaian angka, titik dan koma. Membaca bilangan desimal ini membutuhkan kemampuan menghafal algoritma penulisan bilangan besar: dimana bilangan satuan , puluhan dst diletakkan.

Membaca ‘6’ sebagai ‘enam’ yang disebutkan secara keras anak praSD pasti sudah bisa, tetapi membaca 1234,0567 harus mengerti yang mana satuan dan pecahan desimal dsb. Bisa membaca ‘6’ sebagai ‘enam’, tak ada artinya kecuali bisa mmemahami “******” itu adalah “enam bintang” dsb.

Walaupun begitu, metoda matematika detik saya yakin dapat meningkatkan kemampuan otak kita, karena dilatih untuk berhitung cepat dengan bilangan-bilangan bulat kecil. Untuk bilangan besar dan pecahan tetap harus diajarkan menghafal algoritma.

Ahmad Thoha Faz:

matematika detik (berpikir cepat) adalah second math (matematika kedua), yang utama tetap matematika berpikir lambat (matematika utama). demikian, pak. itu dibahas tuntas di buku seri ke-1

Armahedi Mahzar:

Ya saya sudah baca. Yang saya sampaikan adalah tidak logisnya slogan “membaca angka secepat membaca kata”. Logisnya “membaca angka secepat membaca aksara”.

Ahmad Thoha Faz:

Armahedi Mahzar itu dibahas panjang lebar (secara umum) di buku seri ke-1 dan insya Allah nanti secara spesifik di bagian kedua, pak. makna “membaca” sangat luas.

Ahmad Thoha Faz:

di ilmu manthiq, seperti dicontohkan oleh KH Bisri Musthofa (pen-syarah Sullam Munauraq), memberi contoh operasi dasar sebagai ilmu dharuri. itu ternyata sejalan dengan contoh fast thinking oleh Daniel Kahneman.

Ahmad Thoha Faz:

semua moda berpikir cepat, termasuk cara kerja emosi, bersifat asosiatif.

Ahmad Thoha Faz:

membaca angka secepat membaca kata, sangat tepat karena kesamaan cara kerja keduanya sangat serupa, sama-sama asosiatif. Bedanya, yang pertama asosiatif visual, yang kedua asosiatif verbal.

Armahedi Mahzar:

angka bukan operasi dasar, dia elemen dasar seperti aksara. Operasi dasar adalah TKKB seperti kombinasi huruf dalam kata. Saya memang pernah mencari buku “syarah Sullam Munauraq” di toko buku Dahlan Bandung tapi di sana tidak tersedia.

Ahmad Thoha Faz:

membaca angka beda dengan angka

Armahedi Mahzar:

Membaca angka dan membaca aksara atau kata smasama asosiasi visual-verbal. Mudah-mudahan mengerti maksud saya.

Ahmad Thoha Faz:

bahasa isyarat (tangan) dan bahasa lisan ternyata dikendalikan oleh bagian otak yang sama. makanya keduanya sering saling menggantikan dan melengkapi. kebetulan pas dengan al yawma nakhtimu ‘ala afwahihim wa tukallimuna aydihim…

Armahedi Mahzar:

hehehe… tolong terjemahkan 🙂

Ahmad Thoha Faz:

oh ya pak, di Sullam al-Munauraq, tentang operasi dasar (2×2=4) termasuk dhoruri bisa dilihat di halaman 13

Ahmad Thoha Faz:

yang dari al-Quran itua bukan argumentasi utama, saya tidak berani lebih jauh. hanya sebagai inspirasi. juga tidak ada di buku MD.

Armahedi Mahzar:

disambung besok saja ya. Saya senang bisa pakai FB buat diskusi. Selamat tidur

Ahmad Thoha Faz:

angka (satu, dua, tiga) adalah kata

Ahmad Thoha Faz:

satu lagi, pak. sebelum TKKB adalah membilang (mencacah) to count. Tambah itu perkembangan lebih lanjut dari membilang, serupa dengan kali sebagai kelanjutan tambah.

Armahedi Mahzar:

satu, dua, tiga adalah kata
1, 2, 3 adalah angka

Ahmad Thoha Faz:

terima kasih, Pak, telah mempertajam MD

Ahmad Thoha Faz:

satu, dua, tiga adalah kata1, 2, 3 adalah angka, satu, dua dst itu menyatakan makna, kalau huruf itu satuan bunyi

Ahmad Thoha Faz:

berhitung cepat dan membaca keras keduanya adalah sarana terbaik untuk stimulasi otak menurut penelitian Kawashima. itu alasan lain mengapa keduanya perlu disatukan.

Ahmad Thoha Faz:

satu, dua, tiga, … buku, gajah, dsb adalah “kata” (satuan makna), bukan huruf.

Ahmad Thoha Faz:

1 adalah visualisasi (simbol visual) dari kata bilangan “satu”. kalau di bahasa Arab, kata “wahidun dst” termasuk ism.

Nishfram Haristyan:

Alhamdulillah, diskusi yg menarik Pak Armahedi Mahzar dan Mas Ahmad Thoha Faz yang dihasilkan dari banyak referensi tapi cukup sederhana dlm penyampaiannya.
M e n c e r a h k a n . . . !!

Ahmad Thoha Faz:

maaf, pak, satu lagi. karena angka itu termasuk kata, operasinya (TKKB) lebih serupa dengan kalimat, ketimbang kata.

Armahedi Mahzar:

angka termasuk kata? saya belum pernah mendengar itu. apakah Kawashima yang bilang begitu?

Armahedi Mahzar:

ini kata KBBI : angka 1 /ang·ka/ n 1 tanda atau lambang sebagai pengganti bilangan; nomor: — 13; 2 nilai (kepandaian, prestasi, dan sebagainya): — rapornya cukup baik; petinju itu menang — atas lawannya;

Armahedi Mahzar:

operasi serupa kalimat? saya pikir operasi menggabungkan bilangan menjadi ekspresi seperti misalnya 2+3/4:5-6. ekspresi itulah yang setara kalimat. Persamaan 2×3=6 juga setara kalimat majemuk.

Armahedi Mahzar:

kata KBBI: kalimat /ka·li·mat/ n 1 kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan; 2 perkataan; 3 Ling satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa;

Ahmad Thoha Faz:

Armahedi Mahzar bilangan (angka) termasuk kata sudah sangat gamblang.

Armahedi Mahzar:

Saya pikir: bilangan yang setara dengan kata.

Ahmad Thoha Faz:

angka mengandung makna tertentu, bukan huruf

Ahmad Thoha Faz:

angka juga menjadi satu lema tersendiri di kamus

Ahmad Thoha Faz:

angka digunakan untuk membilang, membentuk bilangan

Ahmad Thoha Faz:

ini bisa menjadi debat kusir, tapi menarik. bahkan tentang klasifikasi bilangan saja (counting, integer, whole, dsb) tidak ada kesepakatan.

Ahmad Thoha Faz:

“kata” sudah punya makna, ini di atas morfem dan fonem, apalagi huruf

Ahmad Thoha Faz:

Sebelumnya saya sudah mencoba “membaca angka secepat membaca abjad/huruf/aksara”, saya pikir ulang lama, mempertimbangkan akhirnya saya ubah.

Armahedi Mahzar:

angka adalah tanda untuk bilangan. bilangan lebih kecil dari sepuluh dan lebih besar dari nol cukup ditulis dengan satu angka. bilangan besar dan pecahan ditulis dengan lebih dari satu angka. Jadi angka itu bagian dari tulisan seperti halnya dengan angka. kata itu bagian dari ujaran lisan.

Armahedi Mahzar:

bilangan seratus adalah konsep yang ditulis sebagai “seratus” yang disebut sebagai kata atau sebagai rangkaian angka “100”.

Armahedi Mahzar:

Saya pikir: konsep atau pikiran dinyatakan sebagai tanda dalam bentuk kata atau kalimat yang ditulis sebagai rangkaian kata yaitu rangkaian huruf sebagai unit dari tulisan. Tulisan itu simbol visual, ujaran itu simbol verbal.

Armahedi Mahzar:

Saya pikir: konsep atau pikiran dinyatakan sebagai tanda dalam bentuk kata atau kalimat yang ditulis sebagai rangkaian kata yaitu rangkaian huruf sebagai unit dari tulisan. Tulisan itu simbol visual, ujaran itu simbol verbal.

Armahedi Mahzar:

Jadi membaca itu adalah mengubah simbol visual menjadi simbol verbal. Memahami adalah mencari makna pikiran dari suatu simbol yang dibaca. Itulah yang saya fahami hingga sekarang. Mungkin saja saya salah.

Armahedi Mahzar:

Jadi yang diperlukan bukan “membaca dengan cepat”, tetapi “memahami dengan tepat”. Inilah kritik fundamental saya terhadap Matematika Detik.

Armahedi Mahzar:

Tetapi saya percaya Matematika Detik sebagai praktek berguna untuk membentuk berpikir dengan cepat. Walaupun begitu, berpikir dengan cepat harus dilengkapi dengan memahami dengan benar atau tepat.

Armahedi Mahzar:

Saya pikir komentar saya itu berlebihan, karena belum membaca seri Matematika Detik yang lebih lanjut. Selamat untuk menjadikan Matematika Detik sebagai gerakan yang bertujuan mereformasi pendidikan Indonesia. 🙂

Armahedi Mahzar:

Rupanya, saya salah paham karena belum membaca buku pertama seri Matematika Detik 🙁
Jadi nggak ngerti landasan filosofisnya 🙁

Ahmad Thoha Faz:

Armahedi Mahzar siap, pak. terima kasih atas waktu dan masukannya, pak. jadi pertimbangan saya untuk perbaikan.

JABAT (JAKARTA-BANDUNG-TEGAL)

Tinggalkan komentar

Tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *