Mencetuskan gagasan #MatematikaDetik (MD) adalah satu hal. Menerbitkannya secara nasional dalam bentuk buku adalah hal lain. Menerjemahkan MD sampai detail-operasional, sehingga bisa berdenyut bersama kurikulum sekolah, adalah hal lain lagi.

Tantangan berikutnya, mewujudkan Kampung Matematika Detik adalah yang paling menarik. Di sini harus banyak bergerak, bersilaturahim, daripada berpikir sendirian terkepung tumpukan buku.

Di mana Kampung Matematika Detik dirintis sampai bisa tumbuh mandiri? Yang terpikir saat ini adalah, pertama, di sekitar Waduk Cacaban dan, yang kedua, di Desa Kemanggungan.

Desa Kemanggungan, Kecamatan Tarub, sekitar 3 km sebelah timur brug abang!

Tentu saja karena di desa kecil itu saya dilahirkan dan dibesarkan. Saya mengenal hampir semua gang di sana, dan terutama masyarakatnya, kecuali makhluk baru dan pendatang.

Tadi malam, Ustadz Afroni Abinya Hadzik, selaku pembina karang taruna, menceritakan peta psikografis mutakhir masyarakat, terutama terkait kepemudaan. “Kemanggungan selalu aman. Setelah pilkades tetap aman,” tegas guru agama SMK Negeri Kota Tegal itu.

Akhir 2014, prototype #ToSM pernah dicoba di MI Kemanggungan, bersama Hendri Lisdiant. Setelah itu, SOP diubah besar-besaran. Lebih tepatnya disederhanakan dan dihaluskan.

Keterangan foto tidak tersedia.
Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk, tabel dan dalam ruangan
KANDIDAT KAMPUNG MATEMATIKA DETIK

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *