SMA Negeri 1 Kota Tegal - Matematika Detik
SMA Negeri 1 Kota Tegal

Haus dan mengantuk. Bosan terkurung di dalam kelas. Spontan terpikir mushola. Ada air jernih yang mengalir dari setiap keran. Ada ruang cukup besar, dengan kipas angin yang siap berputar. Tempat yang asyik untuk melepas suntuk dan melemaskan otot-otot. Apalagi ada lemari berisi koleksi buku keagamaan aneka rupa, cara asyik melepaskan diri dari bahasan di ruang kelas yang itu-itu saja.

Di sini, di mushola ini sangat nyaman.

“Thoha dapat berapa?”
“Tiga.”

Tiga? Aku terbangun. Percakapan di serambi mushola Baitul Ilmi SMA Negeri 1 Tegal mengusik tidur siangku. Ya, daripada di dalam kelas hanya mendapat pengalaman itu-itu saja lebih baik mencari inspirasi di rumah Tuhan.

Aku bangkit dan mendatangi asal suara. Tiba-tiba perbincangan berubah tema. “Eh, Thoha,” kata teman yang berperawakan tidak tinggi dan berwajah gelap.

Aku tahu mereka baru saja berbincang tentang ulangan kimia. Nilai tiga tentu saja buruk. Bahkan boleh jadi terburuk. Sesak dada ini tetapi tidak terlalu. Karena sudah kuduga. Lagi pula dua kali ulangan kimia aku mendapat nol dan nol. Mendapat nilai tiga berarti kenaikan triliunan kali lipat, bukan? Tentu saja bukan, karena nilai adalah skala interval, bukan skala rasio.

Ulangan fisika lebih buruk lagi.

“Ayo, kita lomba. Siapa yang nilainya lebih bagus?!” tantang teman satu bangku, beberapa menit sebelum Bu Edhy Widyastuti menuliskan soal di papan tulis. Anto, demikian nama temanku, tampak antusias. Aku memilih terlelap.

Benar-benar terlelap.

“Biarkan saja,” terdengar suara Bu Edhy sangat dekat. Tanpa mengubah posisi kepala yang lengket di meja, kudengar dengan cermat, bagaimana guru tercantik di SMA Negeri 1 Tegal menegur Anto. Hmm, ternyata Anto sedang berusaha mengerjakan ulangan di atas lembar kertas atas namaku.

Bu Edhy adalah satu dari dua guru yang mengajar aku selama tiga tahun penuh. Satunya lagi adalah Pak Henoch, guru olahraga. Maka tampaknya si mata elang itu tidak terkejut, mengerti siapa Thoha.

Kelas 3 SMA merupakan masa terbaik bagiku menuntut ilmu. Ketika itulah aku benar-benar berpikir. Untuk apa bersekolah? Untuk apa belajar matematika, fisika, kimia dan sebagainya? Untuk apa hidup? Untuk apa aku mempertanyakan semua itu? Terasa pertanyaan itu sangat penting, sehingga meski dengan berat hati aku sering memilih ke sawah daripada ke sekolah.

SMA Negeri 1 Tegal bukanlah sembarangan. Tidak mudah untuk bisa masuk dan bersekolah di sana. Aku tahu itu. Maka aku tidak terkejut tatkala bapakku, Ustadz Zaenudin, dipanggil ke sekolah. Urusannya jelas, jika anaknya masih saja menambah skor absensi, maka konsekuensinya jelas: silakan keluar dari SMA Negeri 1 Tegal. Itu bukan gertak sambal. Tidak lama sebelumnya sekolah baru saja mempersilakan pergi dua siswanya.

Wajah bapak merah padam mendengar ancaman dari Drs Marsum M Dahlan, sang kepala sekolah. Tiba-tiba hal terduga keluar dari mulutnya. Bapak pasang badan dan mengungkapkan dengan suara yang gemetar bahwa anaknya adalah anak baik yang sangat berbakti kepada orangtua. Padahal bapak hampir tidak pernah memuji anak-anaknya secara langsung, begitu kami menginjak remaja.

Ruang kepala sekolah menjadi saksi. Dan disaksikan walikelas 3 IPA 2, aku dan guru BK, bapak meminta kebijaksanaan sekolah dan berjanji akan membantu anaknya lebih sering datang ke sekolah.

Namun, ternyata Thoha masih saja jarang tampak di kelas. 51 hari absen pun tercatat! Kembali, bapak dipanggil.

“Kalau Thoha dikeluarkan bagaimana ini? Kan sebentar lagi ujian.” Kepala sekolah bingung sendiri. Tidak ada sahutan. Semua yang hadir di ruang kepala sekolah tidak ada satu pun yang bersuara.

Meski tampak nekad, sebenarnya aku tidaklah benar-benar nekad. Aku benar-benar telah memperhitungkannya. Tidak mungkin aku dikeluarkan. Mengapa?

Nilai tes sumatif aku tertinggi kedua di Kota Tegal. Tertinggi pertama, seorang yang namanya baru muncul tapi kemudian menghilang. Untuk nilai ilmu eksakta aku tertinggi, tertinggi pertama di Kota Tegal. Sangat berisiko bagi nama besar SMA Negeri 1 Tegal jika dikeluarkan. Begitu kira-kira perhitungan sederhana yang aku lakukan.

Masalah selesai? Tidak. Berkembang praduga bahwa nilai-nilai ulangan harianku yang buruk, bahkan hampir selalu terburuk di kelas, adalah disengaja. “Thoha meremehkan ulangan harian, ulangan yang dibuat oleh gurunya sendiri.”

Demikian prasangka berkembang. Sampai-sampai kepala sekolah dan banyak guru perlu berkampanye bahwa ulangan harian itu penting. Seolah isu itu sangat berbahaya, apalagi tidak sedikit adik kelas juga teracuni oleh paham sesat Ahmad Thoha Faz.

Mari aku jelaskan. Ini jujur. Aku tidaklah secerdas yang orang kira. Jika aku mendapat nilai nol atau nilai rendah lainnya itu karena aku memang tidak paham. Paham? Jika aku tidak mencatat, itu karena aku tidak melihat tulisan di papan tulis dengan jelas. Jika aku terlelap, itu karena aku benar-benar capek. Ingin aku katakan hal itu, dan memang aku katakan setiap ada kesempatan.

Tentu saja alasan yang aku kemukakan tidak memperbaiki keadaan.

Aku sendiri sebenarnya muak dan sakit kepala terus dicurigai. Tapi apa daya. Seiring waktu, aku belajar menerima kenyataan, betapa hidup ini terkepung prasangka. Aku bisa mengerti. Bahwa pendidikan formal memang telah menyeragamkan pola pikir. Logikanya mudah ditebak, karena itu-itu saja. Dan celakanya menutup diri pada pola pikir lain.

Jika aku dapat nilai tertinggi itu bukan karena aku lebih cerdas. Aku hanya berpikir dengan cara yang berbeda.

“Jika jarang masuk kelas, jarang mencatat, jarang mengerjakan tugas, ternyata mendapat nilai bagus, mengapa tidak dianjurkan saja kepada semua siswa?” Kataku kepada guru BK. Tentu saja aku tidak sedang bercanda. Tentu saja argumentasi semacam itu dianggap sepi saja.

Bersambung …

Ajaran Sesat Di SMA Negeri 1 Kota Tegal

Tinggalkan komentar

Tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *