Kisah ini saya dapatkan dari emak, Almarhumah Bae’ah binti Waslam.

Saya percaya emak. Pertama, karena mantan pelayan warteg dan pembantu rumah tangga ini adalah emak. Kedua, emak terbiasa merekam kejadian hingga detail. Bahkan kapan lahir anak-anak ayam dia ingat dan catat. Ketiga, pesan emak bisa diringkas ke dalam satu kata, “Jujur!”

Kali ini, emak bercerita tentang seorang bernama Waslam, seorang buruh tani yang dikenal ahli ibadah, jujur, halus tutur katanya dan tidak banyak bicara. Waslam adalah kakek saya dari jalur emak.

Saya tidak pernah menjumpainya langsung. Ketika saya lahir, kakek sudah meninggal. Namun, penelusuran saya ke orang-orangtua semuanya mengagumi kepribadian Waslam. Dalam perawakan, konon saya sangat mirip beliau.

Suatu ketika, Waslam terlibat konflik dengan orang kaya. Si kaya menyerobot hak Waslam dan menuduh Waslam berbohong. Dengan angkuhnya, maklum karena kaya dan kuasa, meremehkan Waslam.

Waslam tidak berdaya apa-apa. Namun, dia semakin tekun mengadu kepada Allahu. Diserobot hartanya sangat berpengaruh bagi keluarganya, tapi dicap pembohong jauh lebih menghancurkan.

Waslam berdoa, semoga masalah menjadi terang-benderang. Siapa yang berbohong, semoga terbuka.

Wallahu a’lam. Tidak lama kemudian, Allahu ta’ala menunjukkan kuasanya. Emak menceritakan itu dengan menahan sesaknya dada.

Wallahu a’lam. Semoga Allahu ta’ala mengampuni dan merahmati mereka semua.

SIAPA YANG BERBOHONG? (MUBAHALAH)

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *