Merah. Saya pernah melihat rapor Bapak, dari SD sampai Aliyah (SMA) di pesantren Kaliwungu, Kendal. Matematika adalah salah satu yang terburuk.

Begitu pula rapor dan ijazah kakak saya di pesantren Gontor. Padahal kakak saya adalah juara 1 speech contest sewilayah Kediri dan sekitarnya yang diadakan di sarang bahasa Inggris: Pare, Kediri.

Apakah santri-santri lain juga demikian?

Saya sendiri mulai jatuh hati pada matematika sejak di SMP Penawaja, Talang. Bermula dengan tamparan keras dari seorang guru matematika yang juga wali kelas. Plak! Plak! Plak!

Sejak hari itu, sebagai ketua kelas yang dipilih secara aklamasi, saya dipecat. Sejak hari itu pula, nilai matematika saya hampir selalu sempurna.

Kisah seperti itu di dunia pesantren berlimpah. SMP Penawaja memang sangat kental nuansa pesantren.

Apakah santri-santri perlu “ditampar” supaya gemar bermatematika? Ya. Masalahnya, mengapa, apa dan bagaimana?

Malcolm Gladwell, dalam “Outlier”, menulis keterkaitan bahasa dengan berhitung (salah satu kemampuan matematika terpenting). Cina, Jepang dan Korea adalah juara matematika. Mengapa? Mereka memiliki sistem perhitungan yang logis. Sebelas adalah sepuluh-satu. Dua belas adalah sepuluh dua.

Bagaimana dengan bahasa Arab, yang tidak lain adalah bahasa santri? Tepat, kebalikannya: rumit.

Mari kita lihat, bagaimana bilangan (العدد) diperkenalkan di pesantren. Satu (واحد), dua (اثنين), tiga (ثلاثة), empat (اربعة),lima (خمسة), enam (ستة), tujuh (سبعة), delapan (ثمانية), sembilan (تسعة), sepuluh (عشرة). Perhatikan, banyak yang terdiri dari 3 suku kata. Tidak efisien!

Mari kita lihat lebih lanjut, bagaimana sistem bilangan dalam bahasa Arab itu ruwet dan tidak konsisten.

Bilangan 3 sampai 10. Jika benda yang dihitung (معدود) berjenis maskulin (مذكر), maka untuk bilangannya harus pakai ta marbuthah (ة) dan yang dihitungnya harus berbentuk jamak dan harus majrur (مجرور), kedudukannya sebagai mudhaf ilaih (مضاف اليه).

Bagaimana jika benda yang dihitung berjenis feminin (مؤنث)? Beda lagi. Perlu sedikit modifikasi aturannya.

Pusing, bukan? Tapi itu belum selesai. Aturan untuk penggunaan bilangan 11-12 beda. Bilangan 13-19 beda lagi. Bilangan 20-99 beda lagi lagi. Bilangan 100 dan seterusnya beda lagi lagi lagi.

Saya akan meringkasnya dengan contoh. Semoga anda bertambah pening.
4 pria (اربعة رجال)
4 wanita (اربع نساء)
11 pria (احد عشر رجلا)
11 wanita (احدى عشرة امرآة)
17 pria (سبعة عشر رجلا)
17 wanita (سبع عشرة امرأة )
20 pria (عشرون رجلا)
20 wanita (عشرون امرأة )
100 pria (مئاة رجلا)
100 wanita (مئاة امرأة )
1543 pria (الف و خمسمئاة و ثلاثة و اربعون رجلا)
1956 wanita (الف و تسعمئاة و ست و خمسون امرأة )

Bagaimana solusinya?

Al-Khwarizmi telah melakukannya dengan jenius. #MatematikaDetikmenemukan kembali. Intinya, matematika adalah bahasa visual-kinetik.

ORANG PESANTREN TIDAK SUKA MATEMATIKA, MENGAPA?

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *