Suatu kebetulan anak ini memiliki tanggal lahir yang sama dengan Mas Tom (almarhum Utomo Dananjaya), 6 Februari. Mas Tom adalah sosok yang terus menyemangati saya untuk dapat menemukan sesuatu yang detail-operasional. Dan anak ini, namanya Aufa, adalah kisah sukses pertama #ToSM (Test of Second Mathematics).

Kali pertama bertemu, anak semata wayang ini baru naik kelas 6 SD. Dia sangat lamban melakukan perhitungan dasar. Sebagai contoh 7+8 bisa sampai 5-7 detik dan 7 x 8 sampai 8-12 detik. Itu pun belum tentu betul. ToSM A1 memetakan masalah secara sistematis, detail dan akurat.

Dengan diagnosis yang tepat, terapi menjadi efektif dan efisien. Tidak lama kemudian, Aufa mulai menikmati matematika. Bahkan menjadi pelajaran favoritnya.

Apakah kasus yang dialami Aufa itu langsa. Kami menyebutnya “gagap hitung”.

Bekerja sama dengan mahasiswa KKN dari Universitas Pancasakti (UPS) Kota Tegal dan Universitas Peradaban (UP) Bumiayu, kami menemukan bahwa gagap hitung adalah wabah massal. Itu benar-benar tak terduga. Banyak SD, yaitu siswa kelas 6, yang terbebas dari gagap hitung hanya satu atau dua siswa.

Jadi?

Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk dan dalam ruangan
Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan orang duduk
GAGAP HITUNG, WABAH YANG DIABAIKAN

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *