Menikah1. Menikah dengan Siti Nurhayati, 18 September 2004, beberapa hari menjelang bulan Ramadhan 1425, dengan mahar “draft” Titik Ba (dicetak dan dijilid ala kadarnya).
2. Nikah benar-benar menjadi solusi. “Segera sidang skripsi,” kata dosen pembimbing begitu dikabari bahwa istriku sedang hamil. Januari 2006, aku dinyatakan lulus. 3 Maret 2006, mendapat endorsement tertulis dari rektor ITB (Profesor Djoko Santoso) untuk Titik Ba. 4 Maret 2006, menuruti kedua orangtua, mengikuti prosesi wisuda.
3.Titik Ba terbit, Mei 2007, lebih dari satu tahun setelah endorsement dari rektor ITB. 25 Juli 2007, peluncuran Titik Ba, dengan ketua panitia bupati Tegal waktu itu, Agus Riyanto.
4.Dengan menjadikan SIE sebagai laboratorium, merumuskan turunan pertama Titik Ba, yaitu Metode aRTi. Pelatihan pertama di RSBI SMK Negeri 1 Slawi dan terakhir di PT PUSRI Palembang (1-2 Januari 2011), diundang adik angkatan semasa di ITB (Jauhari Efendi). Setelah itu fokus kembali menyepi, semakin berfokus ke penelitian.
5. Diajak Utomo Dananjaya, pendiri Universitas Paramadina, bergabung menjadi konsultan IER (Institute for Education Reform) dengan tugas utama membumikan paradigma Titik Ba untuk reformasi pendidikan.
6. Didorong sekda dan bupati Tegal waktu itu untuk mengikuti seleksi CPNS, dengan maksud untuk memudahkan proses pembumian Titik Ba bagi reformasi pendidikan. Misi berjalan tidak mulus. Munculnya stigma “anak emas” bupati membuat resistensi sangat kuat di tataran birokrasi. Fokus pembumian Titik Ba dialihkan ke Kota Tegal, dengan misi memunculkan dan mengumpulkan siswa-siswa terbaik melalui SIE (Sekolah Ilmu Eksakta). Dan alhamdulillah konsisten terwujud hingga sekarang.
SIE adalah magnet intelektual di Tegal. Sampai-sampai Akhda Afif Rasyidi, yang baru saja memutuskan dropout dari KAUST Jeddah, begitu tiba di Indonesia langsung bergabung dengan SIE. Penghargaan juga buat trio Ilmu Komputer UI (Faiq Miftakhul Falakh, Arief Yudha Satria dan Iis Afriyanti) yang berinisiatif membuatkan metodearti.com.
7. Pertemuan dengan Hendri Lisdiant pada September 2014, setelah sebelumnya dengan Akhda Afif Rasyidi dan Abu Ma’mur MF, melapangkan jalan perumusan Matematika Detik, untuk membuat Metode aRTi lebih operatif. Ujicoba pertama di Mi Assalafiyah Kemanggungan Tarub dan berlanjut di Panti Asuhan Muhammadiyah Kabupaten Tegal di Slawi.
8. SMP BIAS Assalam adalah sekolah pertama yang tertarik menerapkan Matematika Detik (Level A1) ke dalam sistemnya. Dalam kondisi sakit dan hujan, sepulang dari dokter, perjanjian disepakati. Ternyata foto itu dimuat di halaman 1 berita nasional SUARA MERDEKA dan satu halaman penuh di halaman 2 RADAR TEGAL, tepat pada hari lahir almarhum Utomo Dananjaya, 6 Februari 2015. Berkat kebaikan Hafidz Arfandi (aktivis PII dan HMI) dan sang wartawan Firdaus Ghozali.
9. Kemunculan di koran, menjadi awal kembali bergerak di permukaan setelah lama “bersembunyi” sejak bupati AR masuk bui. Bagamana pun tidak enak di-bully, apalagi terus-menerus oleh sesama PNS. Berita 6 Februari 2015 seolah menunjukkan bahwa lulusan terbaik diklat penyuluh perindustrian Tegal, meskipun secara resmi dinyatakan sebagai “PNS terburuk dan satu-satunya yang tinggal kelas” tidaklah seburuk yang disangkakan.
Memang, begitu banyak pihak yang ingin membantu memulihkan nama baik, termasuk dari penguasa Pemkab, namun kesempatan itu tidak digunakan. Cara terbaik adalah melalui prestasi.
Alhamdulillah, meski belum berkaitan langsung dengan tupoksi, perlahan nama baik pulih. Begitu banyak yang tertarik dengan Matematika Detik. Termasuk SMP Negeri 1 Slawi, SMP paling favorit di Kabupaten Tegal, melalui sang kepala, yaitu Bapak Alfatah.
Di Kota Tegal, sungguh sangat beruntung bisa dipertemukan dengan sejumlah tokoh pendidikan, seperti Ustadz Syamsul Falah, Ustadz Moh Muktafan Tafan, Ustadz Mulyanto Mulyono, Ustadz Imam Jazuli, dsb
10. Namun, fokus yang paling penting adalah menerbitkan buku. Sejak Surat Perjanjian Penerbitan ditandatangani dengan PT Intan Pariwara, pada 22 Juli 2015, ITB adalah target pertama proses branding Matematika Detik. Semoga dimudahkan jalan bersilaturahim ke rekan seangkatan yang kini menjadi dosen di ITB (Yudo Anggoro, Yosi Agustina dan Lenny Rosadiawan), juga ke rektor ITB, Profesor Kadarsah, yang mengaku orang Tegal.
11. Suatu “kebetulan”, ditunjuk merintis website untuk mempromosikan produk IKM Kabupaten Tegal. Amanat itu tidak mungkin ditolak, karena tidak ada orang lain lagi yang tahu proses awalnya, sejak Mas Indra Rustiono (kasi promosi dan perdagangan luar negeri) pindah tempat kerja. Beruntung ada Kang Muhammad Abduh yang kebetulan menjadi partner sejak beliau tidak lagi menjabat pemred RADAR TEGAL. Alhamdulillah, Potji.com dinyatakan sebagai program unggulan dan layak diluncurkan pada peringatan HUT Kabupaten Tegal. Kebetulan, wakil ketua KADIN Jawa Tengah yang juga wakil ketua KADIN Kabupaten Tegal, Bapak Mohamad Amin, tertarik untuk bersinergi sehingga acara pada 26 Mei 2016 berjalan lancar.
Perjuangan dan pengorbanan Faiq Miftakhul Falakh, Lubby Masfar Muzetha dan Oriza Wahyu Utami tidak bisa dianggap kecil pada kesuksesan awal Potji.com (dan juga kesuksesan selanjutnya). Juga semangat dari para nahkoda DPD KNPI (Ustadz Syamsul Falah, Marzuki Akhmad, Adi Purwanto, Ersal Aburizal) sungguh menginspirasi.
Potji.com nantinya diharapkan turut mengawal–seperti dimuat di Suara Merdeka, 8 April 2011– menjadikan Kabupaten Tegal sebagai “laboratorium besar” Metode aRTi.
12. Potji.com “Portal Tegal Jepangnya Indonesia” adalah tentang promosi secara online. Bagaimana dengan promosi secara offline? Tantangan potji.com berikutnya adalah bersinergi dengan Trasa Mart. Dulu dengan Pak Kahar Mudakir, sekarang dengan Pak Su Pangat.
Ada momentum penting yang tertinggal. Bersama Ustadz Fathin Hammam Dhomiri (tokoh muda Muhammadiyah), Mr.Saunan Rasyeed (GM Riez Palace Hotel) dan Akhmad Sef (intelektual RADAR TEGAL) mendirikan Lembaga Nalar Terapan (LeNTera) dan menjadi direktur pertama. LeNTera kemudian mampu menarik banyak tokoh Tegal, sekelas bupati, anggota DPR/DPRD(Ustadz Fikri Faqih, Bang Wahyudin Noor Aly), kepala SKPD (Pak Toto Subandriyo), intelektual Tegal (Mas Andi Kustomo, Febrie Hastiyanto, dsb). Diskusi pertama bertema “Tegal Jepangnya Indonesia” bertempat di Gedung RADAR TEGAL dan dimuat dua halaman penuh di harian terbesar di Tegal tsb. Sayang sekali, LeNTera meredup, seiring sang direktur yang masih sibuk mengumpulkan receh, dan terutama akibat munculnya Facebook. Tidak bisa diingkari, bahwa Potji.com “Portal Tegal Jepangnya Indonesia” itu dipengaruhi oleh simpulan hasil diskusi LeNTera.
Kita semua akan mati, pintu awal menatap realitas sejati. Hidup ini hanya ilusi. Di pelajaran IPA kita tahu, bahwa apa yang kita dengar, lihat dan rasakan semua hanya ilusi. Ilusi adalah simbol, bukan sesuatu yang sejati. Namun, seperti pada simbol, kita dapat memberi makna pada semua ilusi tersebut dengan kemanfaatan pada sesama dan kesadaran sebagai titik di pentas kosmik. Wallahu a’lam

EVALUASI MENJELANG BULAN SUCI: NIKAH, IDEALISME DIMULAI (2004-2016)

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *