سَنُرِیهِمۡ ءَایَـٰتِنَا فِی ٱلۡـَٔافَاقِ وَفِیۤ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ یَتَبَیَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَلَمۡ یَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ شَهِیدٌ
QS.41 (Fushilat): 53

“Segera kami perlihatkan ayat-ayat Kami di jagad raya (DUNIA), di dalam DIRI mereka sehingga terang-benderang bagi mereka bahwa al-Quran adalah benar. Apakah tidak cukup dengan Tuhanmu sebagai saksi atas segalanya?”

1. Segalanya (selain Allahu ta’ala) satu, utuh tak terbagi dan sejatinya tidak ada. SATU, sebab berasal dari Allah yang esa (الله احد). UTUH TAK TERBAGI, sebab setiap bagian saling menjelaskan dan menguatkan. Tidak lengkap memahami satu bagian tanpa memahami semua bagian lainnya. SEJATINYA TIDAK ADA, sebab segalanya tidak lain adalah ayat-ayat (simbol-simbol), sehingga segalanya bergantung pada Allahu ash-shamad (الله الصمد ).

2. Dunia (jagad raya) adalah sistem tunggal. Tidak mungkin hukum-hukum yang mengatur dunia saling kontradiktif. Ilmuwan pernah terobsesi berusaha menemukan satu hukum tunggal lengkap untuk menjelaskan segalanya (theory of everything).

Di ujung petualangan intelektual, tersadarlah kelompok manusia cendekia dengan kesadaran yang sangat jelas bahwa semua ciptaan manusia adalah semua ciptaan manusia. Kita tidak pernah tahu bagaimana hakikat jagad raya kecuali sebatas yang kita tahu. Everything is theory!

Teori segalanya tentang dunia tidak akan pernah lengkap tanpa memahami DIRI. Sebab, diri adalah titik pangkal kesadaran kita tentang jagad raya. Jagad raya yang kita sadari adalah sebatas yang dapat kita sadari.

3. Tanpa kesadaran sebagai fungsi DIRI, jagad raya hanya sebatas yang kita persepsikan. Kita tahu bahwa matahari lebih besar daripada piring, bumi itu bulat, tahu bulat terdiri dari molekul dan atom, jagad raya bermula dari dentuman besar, atau kemungkinan jagad raya itu banyak (multiverse), adalah melalui penjelajahan di dalam diri.

4. Bagaimana DIRI manusia bisa menjangkau seluruh jagad raya, sementara kambing tidak bisa? Karena kita dipersiapkan, baik perangkat keras maupun lunak, untuk menjangkau jagad saya. Suara Tuhan! Program Tuhan! Instruksi Tuhan yang antara lain terkodekan di dalam DNA kita.

Program Tuhan lebih dekat daripada diri kita. Kita tidak dapat mengubah suara Tuhan. Justru apabila kita mematuhinya kita dapat memahami segala-galanya. Konkretnya begini. Hukum logika, yang dikenal dengan prima principia, sanggupkah kita melanggarnya? Yang bisa kita lakukan adalah sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami patuh).

5. Namun, benarkah kita dapat memahami segala-galanya? Dapatkah kita memahami realitas yang sesungguhnya? Dapatkah kita menjangkau yang tidak mungkin terjangkau? Ternyata sama sekali tidak. Kita hanya menyadari dan memahami sebatas apa yang dapat kita sadari. Pada ujung penjelahan kesadaran, semakin jelas fakta bahwa kita tidak tahu apa-apa.

Ujung penjelahan kesadaran kita adalah KEPASRAHAN TOTAL. Sadar sesadar-sadarnya bahwa kita nol.

6. Kita hanya dapat kita jangkau apa yang dapat kita jangkau. Kesadaran kita tidak dapat mencakupi Tuhan. Oleh karena itu, kita mengenal Allahu ta’ala hanya apabila Dia berkenan. Hidayah adalah nikmat terbesar!

7. Bagaimana manusia menjangkau hal-hal yang mustahil terjangkau (hal-hal gaib) dan apalagi mengenal Tuhan yang laitsa kamitslihi syaiun (tidak serupa dengan apapun)? Allahu ta’ala mengutus manusia pilihan untuk menyampaikan suara Tuhan yang dapat dirujuk bersama. Melalui bimbingan Rasulullah kita dapat memahami bagaimana cara untuk terus selalu terhubung dengan Allahu ta’ala.

Tegal, 10 Muharram 1442

Ahmad Thoha Faz

TITIK BA, TENTANG SEGALANYA

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *