“Batu pertama” sebagai pembuka Matematika Detik (MD) seri “Buku Siswa” untuk kelas IV SD/MI.

“Ini yang saya maksud. Buku atau modul untuk siswa.”

Meski tidak terkejut, rasa senang membuncah sewaktu istri mengatakan kalimat itu. Lebih dari sekadar setuju, isteri mendukung rencana untuk menulis buku yang ditujukan untuk siswa.

Sebenarnya rencana sudah lama terpikirkan. Saya sudah berencana beralih fokus. Hal itu sudah saya sampaikan ke editor buku saya di penerbit Intan Pariwara Group.

Pada tanggal 30 Agustus 2020, saya mengirim pesan WhatsApp. “Terkait Level B “Otak Bukan Kalkulator”, saya mau ubah strategi. Rencana buku adalah seperti modul siswa, sehingga bisa dimanfaatkan langsung oleh siswa. Itu lebih mudah dibuat. Pangsa pasar juga lebih luas.

Adapun dasar teori, sebagai modul pelatihan instruktur saja. Ini susah dibuat.”

Alhamdulillah, sang editor menyambut baik. “Itu ide yang sangat baik. Tapi kalau saran saya, modul pelatihan itu nanti tetap terbit sebagai buku juga. Kategorinya buku panduan pendidik dan nanti akan kami nilaikan juga (di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).”

TERUS KAPAN?

Selama dua bulan rencana tinggal rencana. Sampai kemudian rencana itu muncul lagi. Kali ini dengan alasan yang sangat kuat.

Pertama, ToSM digital (on Android) telah diunduh hampir 10.000 pengguna dari 34 provinsi di Indonesia. Artinya telah 100 persen di seluruh Indonesia. Pengguna sudah sangat tersebar. Sudah semakin organik.

Kedua, sudah ada dua lembaga yang antusias turut menyebarkan Matematika Detik dan khususnya ToSM. Yaitu Akademi Kesadaran Diri Indonesia (AKDI) di Semarang dan Pelatihan Olimpiade Sains Indonesia (POSI) di Medan.

Ketiga, dengan bergabungnya mahasiswa STEI-ITB dan D4 Statistika STIS ke SIE (Sekolah Ilmu Eksakta), pengalaman saya semakin komplit. Saya mengajar ilmu eksakta dari kelas 4 SD sampai mahasiswa tahun pertama. Penting, menambah reputasi dan rasa percaya diri.

Keempat, ini yang terpenting. 14 tahun menekuni Matematika Detik, semakin jelas apa dan bagaimana menulis buku siswa. Percuma jika buku yang saya tulis tidak berbeda secara signifikan dengan buku yang saat ini telah ada pasaran. Semua buku Matematika Detik, termasuk buku siswa, harus mencerminkan sebagai detail-operasional “asah intuisi, kelola 2 detik pertama. Rasanya, semua itu tidak mungkin seandainya saya lakukan beberapa tahun lalu.

Simplicity is the ultimate sophistication. Demikian Leonardo da Vinci.

*Ahmad Thoha Faz

TELAH TIBA SAATNYA MENULIS BUKU SISWA

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *