Sebenarnya sejak dicetuskan pada tahun 2007 (tahun terbit Titik Ba), kami belum berfokus berpromosi. Bahkan termasuk sampai tahun 2017, yaitu pada saat Matematika Detik terbit, kegiatan penelitian dan pengembangan adalah fokus dan prioritas kami. Kami tahu diri, terutama menimbang sumberdaya kami yang sangat terbatas.

Namun, alhamdulillah, terutama melalui tulisan deras kami di Facebook, masyarakat menyambut antusias. Khususnya sepanjang tahun 2018-2019 Matematika Detik memasuki tahap go national. Undangan beruntun kami terima.

8 Januari 2018, Hotel Mercure, di Jakarta Pusat

Seminar khusus Matematika Detik dengan pemateri tunggal Ahmad Thoha Faz dan moderator Budiman Sudjatmiko, anggota DPR-RI yang memiliki kepedulian pada pembangunan desa dan penumbuhan budaya inovasi.

31 Maret 2018, di depan acara syukuran wisuda ITB.

Ceramah umum dengan pembicara Ir Abdul Hamid Batubara (Preskom PT Chevron Pacific) dan Ahmad Thoha Faz (penulis Titik Ba dan Matematika Detik). Pada acara ini diadakan kuis kecepatan hitung dasar dengan menggunakan aplikasi ToSM on Android. Sebagai pemenang adalah Bintang Alam Semesta WAM, wisudawan dari Teknik Dirgantara.

Sebelumnya, Ahmad Thoha Faz mengisi kuliah subuh di Masjid Salman ITB. Pada kesempatan itu “Ustadz” Thoha memperkenalkan fakta yang selama ini tidak banyak disadari, yaitu bahwa logika tidak berkaitan dengan kebenaran. Sebaliknya logika berkaitan dengan konsistensi argumen. Ringkasnya, dengan bahasa yang lebih tajam, logika hanya menguatkan prasangka (zhon). Oleh karena itu, sebagaimana disarankan oleh Edward de Bono, kita seharusnya memberi perhatian lebih pada pengelolaan prasangka (persepsi) di atas urusan cara kerja logika.

31 Oktober-1 November 2018, di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah rintisan KH Ahmad Dahlan yang waktu itu tepat berusia 100 tahun.

Ahmad Thoha Faz mengisi pengantar singkat Titik Ba dan berlanjut dengan pengenalan ToSM kepada siswa/santri kelas 6 kelas unggulan (Trensains). Acara berlangsung dari jam 16:00 sampai 22:00 WIB. Peserta antusias, sayang sekali waktu terbatas.

Setelah acara, Ustadz Anton Ismunanto bercerita, telah mengadakan survei kecil. Bagaimana tanggapan santri? “Mantab,” kata Ustadz Anton sambil menunjukkan double thumb.

Besoknya, memperkenalkan Titik Ba di depan para ustadz. Ustadz Thoha mengungkap fakta, bahwa sains status quo dibangun di atas filsafat yang anti-tauhid, yaitu positivisme logis. “Hanya pernyataan yang pada prinsipnya bisa diperiksa dengan observasi atau eksperimen saja yang bisa menyampaikan informasi faktual. Sebaliknya adalah pernyataan yang tidak bermakna. Pandangan dunia (world view) itulah yang menjadi doktrin sains saat ini.


6 April dan 28 Juli 2019, Kemendikbud RI.

6 April 2019, Ahmad Thoha Faz dan Bintang Alam Semesta menjadi pemateri pengenalan Matematika Detik dan ToSM pada acara Sarasehan Literasi Sekolah. Pada kesempatan itu Thoha menyampaikan kritik dengan lugas dan tajam, bahwa selama ini secara de facto matematika telah menghancurkan karakter jutaan anak-anak Indonesia. Mereka menjadi tidak percaya diri, hilang keceriaan, gara-gara matematika yang mengintimidasi.

28 Juli 2019, peluncuran Matematika Detik Level A “Membaca Angka Secepat Membaca Kata” di panggung utama Festival Literasi Sekolah.


2 Mei 2019, Kementerian Agama RI

Ahmad Thoha Faz mengisi pelatihan Matematika Detik di hadapan instruktur nasional guru matematika, fisika, kimia dan biologi Madrasah Aliyah, sekitar 3 jam. Kegiatan berlangsung di Hotel Zia Agrian, Bogor.

Pada kesempatan itu, antara lain, Thoha menyampaikan beda antara berpikir cepat versus berpikir lambat. Istilah itu menjadi populer setelah diangkat oleh Daniel Kahneman, seorang psikolog yang memenangkan hadiah Nobel di bidang ekonomi. Padahal hal itu sudah dikenal lama di dunia pesantren, yaitu dengan membedakan ilmu dharuriy dan nazhariy . Anda bisa memeriksanya, antara lain, pada kitab manthiq Sullam al-Munauraq karya Syaikh ‘Abdurrahman al-Akhdhariy dan al-Waraqat karya Imam al-Haramain.


23 November 2019, Uhamka dan HDPGSDI (Himpunan Dosen PGSD Indonesia).

Ahmad Thoha Faz menjadi salah satu pemateri seminar nasional bertema “Tantangan Pendidikan Dasar di Era Digital”. Acara dilanjutkan dengan pelantingan pengurus pusat HDPGSDI (Himpunan Dosen PGSD Indonesia).

Pada kesempatan itu, Thoha menekankan bahwa pendidikan seharusnya memulai perubahan, bukan mengikuti atau mengekor perubahan. Caranya, pemangku kepentingan berfokus besar pada-hal hal yang berubah, sebelum berfokus kecil pada hal-hal yang terus berubah. Salah satu konsep yang tidak pernah berubah adalah iman seharusnya berbuah inovasi. Atau selengkapnya adalah trilogi 3i (iman, imajinasi dan inovasi).

REKAM JEJAK TITIK BA & MATEMATIKA DETIK 2018-2019

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *