Sumber foto: Kalkulus Edisi Kedelapan Jilid 1, karya Purcell, Varberg & Rigdon, halaman 114

PERBARUI TERUS “PRIMA PRINCIPIA”

Matematika Detik tidak bisa terlepas dari sumber inspirasinya, yaitu Titik Ba. Apa itu Titik Ba? Segalanya satu, utuh tak terbagi dan sejatinya tidak ada.

Itu adalah sebuah postulat, bahkan sesuatu yang bersifat aksiomatik. Sangat jelas. Tidak ada keraguan di dalamnya. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Sebaliknya, terhadap aksioma, yang dapat kita pikirkan dan lakukan adalah detail-operasional bagaimana?

Kita langsung ke contoh. Saat ini saya mengajar matematika (kalkulus dan aljabar linear) kepada mahasiswa ITB dan STIS. Contoh ini saya pilih karena masih hangat.

Perhatikan pembuktian teorema pada gambar. Ada sesuatu hal penting yang tidak terucap, tidak terungkap. Yaitu prinsip utama kebenaran, atau prinsip kewarasan nalar, atau prima principia: “f(x) = f(x)”.

Perhatikan karena f(x) sama dengan f(x) maka berarti hanya ada satu f(x). Sehingga pada dasarnya prima principia menegaskan kesadaran yang tunggal, atau kebenaran yang tunggal. Mengapa “f(x) = f(x)”, bukan “kambing = kambing”? Bebas saja, tidak harus f(x) atau kambing. Itu hanya simbol. Tapi memang yang bisa kita sadari hanya simbol. Dan simbol segalanya tidak ada.

Kembali ke “f(x) = f(x)”. Sepintas itu terlalu sepele. Padahal prima principia adalah fondasi utama, atau lebih lugasnya fondasi satu-satunya bagi pikiran yang waras. Menganggap fondasi utama sebagai sesuatu yang sepele adalah sikap yang tidak waras. Kontradiktif!

من جهل الاصل لم يصب الفرع ابدا

“Siapapun yang tidak tahu pokok, tidak akan tepat pada cabang selamanya.”

Tapi mengunggap kesederhanaan memerlukan keberanian. Disadari atau tidak, kita takut diolok-olok untuk mengungkap sesuatu yang (terlalu) sederhana, (terlalu) jernih.

Padahal fakta menunjukkan kebalikannya. Sebagai contoh pembuktian teorema pada gambar. Banyak mahasiswa mengalami kebingungan, karena tidak menyadari “f(x) = f(x)”.

Oleh karena itu, tauhid seharusnya dibiasakan sejak awal dan seterusnya di ruang kelas. Bukan supaya masuk surga (itu urusan nanti), melainkan supaya pembelajaran adalah sebagai proses pembebasan, pengungkapan kebenaran yang telah terpasang di dalam dan lebih dekat daripada diri kita sendiri.

Wallahu a’lam.

*Ahmad Thoha Faz

PERBARUI TERUS “PRIMA PRINCIPIA”

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *