“Torsi itu apa?”
“Ef kali el.”
“Kenapa torsi ef kali el? Bagaimana kamu menjelaskan kepada adikmu, yang kelas 5 SD, supaya dia mengerti?”
Hening. Andalan SMA Negeri 1 Tegal pada olimpiade fisika itu terdiam.

Yang tersimpan di benak remaja asal Kabupaten Brebes ini tampaknya memang gugusan huruf aneh. Ef kali el. Em kali r kuadrat. I kali alfa. Tidak ada gambar yang rinci dan gamblang. Tidak ada “bahasa manusia”.

“Torsi termasuk besaran skalar atau vektor?”
“Vektor.”
“Kenapa?”
“Karena ada positif dan negatif.”
“Muatan listrik termasuk besaran skalar atau vektor?”
“Skalar.”
“Kenapa?”
“Oh ya, …”. Kini Farel termakan kontradiksi dari pernyataan yang dibuatnya sendiri.

Berguru kepada Mas Tom (almarhum Utomo Dananjaya), saya semakin suka bertanya. Saya mengajar dengan bertanya dan bertanya. Ilmu adalah cahaya, sehingga sudah seharusnya membuat terang-benderang.

Namun, faktanya sekolah selalu membombardir anak-anak dengan rumus dan istilah. Telan, telan, telan. Hapalkan, hapalkan, hapalkan. Tidak aneh, pikiran tersumbat. Nalar gelap.

“Saya tidak tahu apa-apa, Pak, di sekolah.” Selalu kalimat demikian yang saya dengar, termasuk dari mereka yang terbaik di Kota Tegal. Mungkin mereka berlebihan, tapi faktanya itu yang selalu mereka katakan.

Saya pernah bersekolah. Tak mudah memang, menanggung tumpukan beban istilah. Sampai sekarang saya merasa sangat bodoh, tapi tidak lagi merasa sendirian.

Tepat, karena itu, Matematika Detik tujukan kepada siswa-siswa bodoh, yang merasa tersiksa dengan kejamnya pengrusakan nalar: pendidikan.

*Ahmad Thoha Faz

KEJAR DENGAN PERTANYAAN

Tinggalkan komentar

46 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *