Terus-terang saya iri dengan Niels Bohr (1885-1962), yang begitu terinspirasi oleh Yin-Yang. Apakah anda tahu Yin-Yang? Ini jawaban spontan muncul di pikiran saya, “Keutuhan dan keberpasangan sebagai hukum gerak semesta.”

Keberpasangan adalah fondasi dari segala-galanya. “Principle of complementarity”, yang dirumuskan oleh Niels Bohr, menerjemahkan Yin-Yang hingga detail-operasional.

Sebagai muslim, prinsip penciptaan berpasangan secara lugas diungkapkan dalam QS.36:36. Masalahnya, detail-operasional bagaimana?

Ayat “36:36” telah membuat saya terpesona sejak kali pertama kenal artinya. Saya berharap keyakinan dan kekaguman pada ayat “36:36” bukan sebuah omong-kosong, klaim bohong, melainkan berbuah nyata.

Sebenarnya, ini yang saya pahami, prinsip keberpasangan adalah alamiah saja. Ini sebagai contoh dalam perumusan Matematika Detik. Ketika dan setelah saya merancang ToSM (Test of Second Mathematics), segera terpikir HINT (Hitung Intuitif). Ada banyak hal bertema “membaca angka secepat membaca kata” (Level A) yang TIDAK tercakup dalam ToSM. Maka kemunculan HINT adalah keniscayaan untuk saling melengkapi.

Begitu pula pada saat perumusan Level B “Otak Bukan Kalkulator”, yaitu saat ini. Sebenarnya semangat untuk merumuskan Level B agak menurun, terutama menunggu kabar cetak ulang buku Level A. Sebagai informasi, Level A saat ini sudah lulus penilaian di Kemendikbud RI. Kapan dicetak lagi?

Lalu energi kreatif disalurkan ke mana? Segera saya tersadar tentang pengaruh cerita yang begitu dahsyat. Yuval Noah Harari, guru besar sejarah, mengupasnya lugas dalam bukunya yang menjadi bestseller internasional: SAPIENS. Ini yang dapat saya simpulkan, bahwa manusia dikendalikan oleh cerita yang mereka yakini, seperti halnya mesin digerakkan dengan logika yang dipasangkan padanya.

Ayat-Ayat Cerita (AAC) saling melengkapi dengan Level B “Otak Bukan Kalkulator”.

*Ahmad Thoha Faz

AYAT “36:36”

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *