“Lagi di percetakan lihat ini. Jadi ingin memperdalam Matematika Detik,” pesan WA disertai foto dari Imam Syafi’i, seorang guru di SDIT Madinah, Slawi. Saya mengenal sosok ini sewaktu masih menjadi mahasiswa Pendidikan Matematika Universit as Pancasakti (UPS) Kota Tegal.

Foto menampilkan skripsi di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Semarang (UNNES). Saya periksa nama penyusun. Afidahtul Izzah. Saya ingat-ingat. Saya tidak kenal. Ini benar-benar tidak terduga. Apakah itu berarti Matematika Detik sudah mulai menjadi keilmuan milik publik?

Saya senang sekaligus cemas. Senang karena banyak mahasiswa tertarik meneliti Matematika Detik sebagai karya akademik. Saat ini sudah tercatat satu judul tesis dari ITB. Enam judul skripsi dari UPS (3), UNNES (2) dan UP (1). Satu judul karya inovasi mahasiswa dari UNDIP. Jika karya Afidahtul Izzah dihitung, maka sudah tercatat tujuh skripsi.

Benarkah?

Saya tidak yakin. Beberapa waktu lalu datang secara terpisah dua sosok mahasiswi program magister pendidikan matematika. Pertama, Desi Dwi Jayanti dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Kedua, Indriana Eko Armaidi dari Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Ada satu lagi. Ammar Abdullah dari Pascasarjana Pendidikan Matematika Universitas Tadulako, Palu, juga tertarik menjadikan ToSM menjadi bagian dari tesis yang sedang dia susun. “Saya ingin membuat sesuatu yg baru pada tesis saya. Saya berencana ingin meneliti kemampuan penyelesaian matematika mahasiswa s1. Apakah saya bisa menggunakan ToSM?”

Apakah tesis mereka bertiga sudah selesai? Saya tidak tahu. Jika sudah selesai, berarti saat ini tercatat empat judul tesis. Ada empat master yang lahir dengan penelitian akhir tentang Matematika Detik.

Itu yang saya cemaskan. Ada dua buah kemungkinan gagal paham di sini. Pertama, banyak orang mengidentikkan ToSM (Test of Second Mathematics) dengan Matematika Detik. Itu jelas keliru. ToSM hanya salah satu instrumen Level A. Masih ada instrumen lain, yaitu yang disebut HINT (Hitung Intuitif). Selanjutnya Level A hanya salah satu level dari Matematika Detik. Setelah A, masih ada B, C dan D.

Kedua, ToSM mengalami perkembangan yang sangat pesat sejak tiga tahun terakhir (2007-2020), terhitung sejak terbitnya Matematika Detik. ToSM baru mengalami proses pembakuan pada pertengahan 2020. Oleh karena itu, kemungkinan besar skripsi atau tesis terbaru pun berdasarkan ToSM versi terdahulu.

Oleh karena itu, “kaderisasi” yang terstruktur, sistematis, masif dan berkelanjutan merupakan keharusan. Ini penting. Bahkan mereka yang terlibat dekat dengan perumusan ToSM belum layak dianggap instruktur ToSM. Sebab mereka belum mengikuti pelatihan ToSM secara tuntas, dari teori hingga praktik.

ToSM tidak menolak improvisasi. Sebaliknya ToSM memeluk inovasi. ToSM tumbuh karena improvisasi atau inovasi tiada henti, tentu saja selama dibangun di atas prinsip-prinsip Matematika Detik.

*Ahmad Thoha Faz


SKRIPSI KE-7, TESIS KE-4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *