SMA1 TegalSuatu hari, di hari pertama tahun pelajaran 1997-1998, di SMA paling favorit di Tegal dan sekitarnya saat itu: SMA Negeri 1 Tegal.

Puluhan remaja berseragam putih abu-abu mengerumuni sesuatu, tampaknya sebuah pengumuman. Memang, sebuah pengumuman, sebuah rangkuman capaian tertinggi sekolah itu: 10 besar di setiap kelas paralel di SMA Negeri 1 Tegal.

Kehebohan muncul menanggapi daftar 10 paralel kelas 2. Adapun kelas paralel lain tidak begitu istimewa. Normal-normal saja. Tidak menarik perhatian.

Daftar 10 besar kelas 2 paralel di SMA 1 Tegal tahun pelajaran 1996-1997 itulah yang mengundang tanya dan memancing penyebaran cerita. Bukan karena pada daftar 10 besar paralel ada nama Ahmad Thoha Faz. Justru karena tidak ada nama orang yang paling saya kenal itu. Siapa lagi yang saya kenal selain diri saya sendiri? Mengapa nama saya tidak ada?

Saya tatap kembali daftar berbingkai di depan mata.

1. Deddy Santoso
2. Setiawan Wijaya
3. …
4. ….

“Thoha tidak ada! Thoha tidak ada!”

Karena tidak tercantum, nama saya disebut di mana-mana. Mereka tentu tahu bahwa saya ada di sekitar itu, tapi tidak ada satu pun yang menghampiri saya dan bertanya. Dada saya terasa sesak. Mungkin mereka tahu diri, tidak mau mengganggu.

Memang saya juara yang diharapkan. Dengan perilaku yang memalukan, sering terlelap di kelas atau tidak hadir atau sering tidak mengerjakan tugas, bagaimana menjadi juara di sekolah paling bagus di Tegal?

“Anak Bapak tidak layak masuk SMA 1. Meremehkan SMA 1,” kata seorang guru, yang membuat berang si Bapak. Ya, Bapak saya yang dikenal garang langsung naik pitam. “Anak saya masuk sekolah ini lewat jalur resmi, Bu. Bersaing dengan anak-anak lain. Bagaimana bisa dikatakan tidak layak? Nanti saya laporkan ke dinas,” kata Bapak.

Saya mendengar cerita itu dari Bapak. Ketika bapak bercerita dengan tamu yang datang ke rumah, bukan dengan saya.

Saya sendiri yang menjadi lakon cerita berusaha biasa-biasa saja. Walaupun sakit sesakit-sakitnya, saya berusaha bijaksana.

“Mas Thoha, daftar 10 besar yang bermasalah itu sudah saya perintahkan untuk diturunkan. Bagaimana kalau diganti dengan daftar yang baru, yang sudah diperbaiki?” kata Drs Marsum M Dahlan, kepala SMA 1 Tegal, di ruang kepala sekolah.

“Tidak perlu, Pak. Lebih baik ditiadakan saja.”

Namun, secara tertulis pada sebuah surat, dengan disertai permintaan maaf, kepala sekolah menyatakan saya ranking 2 dari 308 siswa paralel. Walaupun nilai ulangan murni tertinggi di SMA 1 Tegal, tentu saja tertinggi di Kota Tegal, saya cukup puas menjadi yang kedua. Saya ranking 2, diapit oleh dua siswa yang bermata sipit.

Siapa yang mencoret nama saya dari daftar 10 besar? Mudah ditebak, tapi saya tidak mau menebak.

Peristiwa itu sangat menyakitkan. Namun, kejadian itu memaksa saya mengambil jarak dengan sekolah untuk bisa meninjau sekolah lebih objektif. Di kelas 3, saya membuat rekor fantastis yang tidak terpecahkan hingga dua dekade kemudian: 51 hari tidak hadir di kelas.

Setelah dipikir-pikir, bagaimana pun Thoha waktu itu hanya seorang remaja labil yang perlu dukungan. Bagi seorang anak petani dan guru ngaji, menjadi yang terbaik di Kota Tegal jelas bukan prestasi yang mudah, apalagi di tengah ketidaksukaan sejumlah guru. Kegagalan sekolah memberikan apresiasi sepantasnya telah membuat seorang juara merasa hampa dan putus asa.

TERULANG 20 TAHUN KEMUDIAN …

“Kamu tidak naik pangkat. Tidak ada namamu pada daftar PNS yang naik pangkat,” kata seorang rekan kerja di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tegal.

Beda dengan rapor siswa, rapor PNS ternyata si PNS sendiri yang mengisinya. Itu tidak mudah. Berulangkali saya bolak-balik untuk memperburuk nilai rapor saya.

Saya adalah PNS yang terburuk dan satu-satunya yang gagal naik pangkat. Maka rapor pun harus menyesuaikan. Dan itu adalah keputusan resmi yang ditandatangi oleh semua pejabat negara yang terkait.

Sebagai keputusan resmi Pemerintah Daerah itu tidak sekadar menyakitkan. Itu bisa mematikan, berdampak luas pada penghasilan, karier dan upaya pembunuhan karakter.

“Mas Thoha, saya mendengar Mas Thoha tertunda kenaikan pangkatnya. Apa yang bisa Ibu bantu?” kata Dra Umi Azizah, wakil bupati Tegal, di ruang kerja beliau.

“Tidak ada masalah, Bu,” jawab saya.

Dan, memang tidak ada masalah. Ini bukan masalah pribadi, karena itu saya sering sebarluaskan ke dinding Facebook. Ini ironi atau lelucon pengelolaan pemerintahan. Bagaimana Tegal bisa maju? Bagaimana Indonesia bisa maju?

Kini, dengan hati yang terluka, saya berusaha merintis Potji.com “Portal Tegal Jepangnya Indonesia” dan kemudian Poros Digital. Tidak mudah, apalagi kucuran anggaran untuk Potji.com adalah Rp 0 (nol). Dan saya hanyalah PNS rendahan yang tidak bisa otak-atik anggaran.

Beruntung, masih banyak pihak yang peduli. Seorang dosen dan mahasiswa Ilmu Komputer UI berinisiatif menangani pangkalan data. Seorang mahasiswi Teknik Industri UNDIP melakukan penelitian komprehensif untuk merancang ulang website. Juga dari STMIK YMI, Poltek Harapan Bersama, SMK Negeri 1 Adiwerna, SMK Negeri 1 Slawi, … KADIN mendukung peluncuran Potji.com di Gedung Dadali. KNPI siap mendukung pendataan model baru yang cocok dengan era digital.

Saya akan berusaha sekuat tenaga supaya Potji.com bisa tetap berkembang. Gerakan melek internet marketing terus melaju kencang. Namun saya hanya manusia biasa, kadang lelah, letih dan pusing. Jika ternyata Potji.com gulung-tikar, saya akan menjadi orang pertama yang melakukan sujud syukur.

Masih ada tugas lain: Poros Ekonomi Kreatif dan Poros Ristek. Selain itu, mendukung Pusat Pengembangan Matematika Detik (PPMD) menjadikan Tegal sebagai “laboratorium raksasa”. Sambil bekerja dengan deadline untuk terbitnya buku pertama Matematika Detik ke seluruh penjuru negeri, bersama PT Intan Pariwara.

Tidak mudah menggerakkan begitu banyak manusia. Itu bisa mewujud, karena bukan saya yang mewujudkannya. Alam semesta, termasuk manusia yang terkungkung di dalam ilusi mahabesar itu, hanyalah titik, titik ba. Wa ma romayta idz romayta, wa lakinnallaha roma…

Merdeka!

“TENTANG LELUCON SEKOLAH & BIROKRASI”

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *