“Peluncuran Titik Ba perdana harus di Kabupaten Tegal,” kata bupati Tegal waktu itu, H Agus Riyanto (AR).

Dan thought makes things. 25 Juli 2007, di Klonengan Margasari, Titik Ba dilahirkan. Semua kepala SKPD, seluruh camat, kepala SMP dan SMA/SMK, semua tokoh masyarakat diundang. Mungkin itu peluncuran buku paling megah sepanjang sejarah Kabupaten Tegal.

Berikutnya, AR sempat hendak menamai perpustakaan daerah dengan nama “Titik Ba”, hanya saya berkeberatan. Bukan saya tidak setuju, hanya ruang-waktunya belum tepat. Jadilah, perpustakaan daerah menyandang nama yang tepat “Soekarno-Hatta”.

Waktu itu, usiaku belum kepala tiga. Namun, bukan soal usia aku merasakan kuat itu belum waktunya. Titik Ba memang telah berusia ribuan tahun, tapi “titik ba” sebagai buku utuh belum seusia matang pohon mengkudu. Ketergesaan adalah tindakan setan.

Segalanya diciptakan berpasangan. Setelah diluncurkan lokal, Titik Ba diluncurkan di kampus bereputasi nasional: ITB. Menggandeng acara Ikatan Orangtua Mahasiswa (IOM) ITB, Titik Ba diluncurkan di Aula Barat ITB.

Rektor ITB waktu itu, Prof Djoko Santoso, tidak kalah antusias dibanding bupati Tegal. Oleh guru besar geofisika bereputasi Internasional itu, Titik Ba dianjurkan dibaca oleh seluruh dekan di ITB. Beliau membagikannya merata. Satu dus. Sejak Bung Karno kuliah di ITB, tidak ada karya lulusan S1-nya yang mendapat kehormatan semacam itu.

Gagasan tidak untuk dikagumi. Gagasan untuk ditanam di tanah, agar mengakar dan terus berbuah, mendatangkan manfaat seluas-luasnya.

Namun, kesungguhan pada gagasan hanya bisa diukur dengan nyawa. All-out aku berfokus pada Titik Ba. Dan karena dorongan Pemkab Tegal untuk membumikan Titik Ba itulah aku kemudian mengikuti seleksi dan kemudian lolos menjadi PNS.

Gagasan tidak boleh berkelas lokal. Di luar dugaan, Utomo Dananjaya (pendiri Universitas Paramadina) mengundang ke Jakarta. Aku diajak bergabung dengan Institute for Education Reform (IER) dengan satu misi khusus: membumikan Titik Ba untuk mereformasi pendidikan Indonesia.

Titik Ba menumbuhkan Metode aRTi, terus menumbuhkan Matematika Detik. Dan satu dasawarsa setelah momentum Klonengan, 30 Maret 2017, pada acara MUSRENBANG Kabupaten Tegal, Wakil Bupati Hj Umi Azizah mencanangkan Kabupaten Tegal sebagai laboratorium Matematika Detik.

“Sebuah karya yang luar-biasa,” kata rektor ITB sekarang, Profesor Kadarsah Suryadi, tentang Matematika Detik. Suatu kebetulan, Profesor Kadarsah pernah mengaku orang Tegal.

Rombongan ITB siap datang ke Tegal belajar Matematika Detik. Satu keluarga, seorang kyai muda PBNU yang sempat memimpin Lembaga Dakwah al-Azhar Jakarta, datang ke Tegal, lalu menyatakan siap menjadi perwakilan Matematika Detik untuk wilayah Jakarta.

Tegal pernah punya impian. Suatu kebanggaan dan sumber kesejahteraan apabila warga dari seluruh nusantara datang ke Tegal, menghayati suasana Kampung Matematika Detik. Apakah COBLOSAN akan menyingkirkan impian panjang itu? Ataukah menguatkan dan mewujudkannya?

TEGAL PERNAH PUNYA IMPIAN

Tinggalkan komentar

Tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *