Gagasan Poros Ristek, atau semula “Poros Kampus”, langsung disambut antusias pihak Perpusarda. Begitu Thoha (sebagai penggagas) ceritakan, pada hari terakhir aktif di bulan puasa lalu, mereka (Pihak Perpus) langsung tertarik. Mereka berharap dengan adanya Poros Kampus maka perpustakaan daerah menjadi ramai. Apalagi lokasi perpustakaan memang sangat strategis.

Poros Kampus memang nantinya menjadi bagian dari “Poros Digital” Tegal Jepangnya Indonesia (POTJI. Thoha siap menghubungi sejumlah pihak terkait, terutama kalangan mahasiswa dari kampus-kampus besar di Indonesia, seperti ITB, UI, UGM, ITS, IPB, STIS, dan sebagainya

“Tentu saja saya sifatnya hanya membantu. Jika benar-benar ingin menjadikan perpustakaan daerah sebagai Poros Kampus, harus ada satu orang atau satu tim yang siang-malam memikirkan gagasan tersebut. Di tengah liburan lebaran, saya menunggu kabar” Kata thoha

Kemarin (11/07), pada hari pertama masuk kantor, Setumpuk undangan ada di meja kerja Thoha. Pihak Perpus menyerahkan semua urusan kepada Thoha, namun ia membiarkanya saja karena ada PR besar yang harus ia kerjakan yaitu mewujudkan Kampung UKM Digital.

Apapun, sambutan pihak SKPD Perpustakaan dan Arsip Daerah sungguh luar biasa. Namun semangat saja tidak cukup.

SEMANGAT SAJA TIDAK CUKUP

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *