Sudah 9 tahun (2007-2016), sejak Titik Ba terbit. Sampai sekarang, kami masih mendapat kiriman surat pemberitahuan royalti. Untuk periode Januari-Maret 2016, kami mendapat royalti Rp 0.

Jangan menulis buku! Tentu saja, aku tidak bermaksud mengatakan itu.

Titik Ba memang sudah tidak terbit lagi. Dulu rencananya ingin aku terbitkan sendiri, sehingga hak terbit aku mintakan dari si penerbit, yaitu PT Mizan Pustaka. Sebuah kesalahan besar akibat emosi anak muda. Ya, ketika itu aku masih pemuda, belum 30 tahun.

Namun, seperti serangga, jenis buku dan semangat di baliknya sangat beragam.

Titik Ba adalah buku berat. Mas Tom (almarhum Utomo Dananjaya), yang menyatu dengan nama Cak Nur sebagai pendiri Paramadina, mengaku membaca Titik Ba berulang-ulang supaya menangkap maksud si penulis.

Juga rektor ITB. Begitu terbit, membagikan satu dus buku Titik Ba kepada seluruh pimpinan fakultas/sekolah di ITB. Tentu saja mereka itu semua profesor.

Jadi, dengan bobot yang sama ingin berbagi pengetahuan, aku ingin berbagi kebingungan.

Sejak awal, aku niatkan Titik Ba sebagai “ijazah”. Dan supaya niat itu efektif, maka aku simpan ijazah yang hanya satu lembar: ijazah S1 Teknik Industri ITB.

Dan benar, alhamdulillah, jalur kemanfaatan yang kutempuh hingga saat ini hampir semua bermula dari Titik Ba.

Ahmad Thoha Faz's photo.
Royalti Rp 0

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *