Pegawai Negeri Sipil“Mas, tolong hapus tulisan sampeyan di Facebook.”
“Kenapa?”
“Ya, semua marah. Kalau sampeyan kerjanya bener, bolehlah. Wong kerja saja sering membolos.”
“Lah, saya tidak menunjuk siapa-siapa. Saya menunjuk hidung saya sendiri. Yang dimaksud PNS yang kerjanya menipu dan mencuri ya saya. Itu yang saya haqqul yakin. Yang lain, saya cuma melihat dengan kepala sendiri.”
“Tapi sebaiknya dihapus.”
“Wah, malah mau saya tambahi.”

Oleh kolega lain, saya disuruh kolega minta maaf ke atasan atas tulisan saya di Facebook. Ya, jelas itu saran yang keliru. Saya datangi atasan dan berdebat keras. Apalagi saya pegang data dan pernah belajar bagaimana berlogika. Itu dulu.

Sekarang saya dibiarkan saja. Mungkin dianggap sudah “kenthir”.

Di PNS, saya memang hanya PNS terburuk. Rendahan lagi. Tapi saya pernah memimpin LeNTera (Lembaga Nalar Terapan) yang kalau diskusi pesertanya banyak tokoh top Tegal, termasuk bupati dan anggota DPR. Pamor LeNTera sangat moncer. Hasil diskusinya dipaparkan dua halaman penuh di koran terbesar di Tegal, RADAR TEGAL.

Tapi bukan itu alasan saya berani bersikap.

Sebagai seorang sarjana teknik industri ITB, saya merasakan sendiri betapa kacau-balaunya birokrasi. Rasanya sia-sia saya menjadi juara matematika, juara ke-NU-an, juara pemahaman al-Qur’an, belajar jauh-jauh ke Bandung, menulis Titik Ba yang sukses membuat banyak orang cerdas jadi gila, kalau saya tidak bisa berbuat apa-apa. Apa gunanya punya karya yang dianjurkan seluruh dekan di ITB, kalau saya bermental bebek?

Selain itu, kebetulan saya menjadi PNS terburuk. Jadi tidak pernah khawatir untuk menjadi lebih buruk lagi.

Bersambung…

PENIPU NEGERI SIPIL?

Tinggalkan komentar

Tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *