Pendidikan berdiri diatas politikSaya tidak pernah belajar di Gontor. Tapi kakak saya lulusan Gontor, yang selalu di kelas B, kelas terbaik di sana, karena kelas A untuk dewan guru. Adik saya jebolan Gontor. Saya lulusan SMP Penawaja Talang, yang sangat kental nuansa Gontor-nya.

Hanya dengan cara itu, saya mengenal Gontor.

Antara Gontor dan SMA Negeri 1 Tegal

Bagi saya, Gontor serupa dengan Mushola Baitul Ilmi SMA Negeri 1 Tegal, tempat saya belajar banyak hal yang tidak diajarkan di ruang kelas. Kebetulan ketika kakak di Gontor paralel dengan pendidikan formal saya di SMA. Saya mengenal pemikiran trio Jombang (Cak Nur, Cak Nun, Gus Dur), Quraish Shihab, Kuntowijoyo, Stephen R Covey, Ernest Gellner, dsb karena perkenalan dengan Gontor. Di sisi lain, di Mushola Baitul Ilmi saya mengenal pemikiran “Menggagas Fiqh Sosial” KH Ali Yafie, Prof A Baiquni, “Islam Alternatif” dan “Islam Aktual” karya Jalaluddin Rakhmat, Yusuf Qardhawi, Maurice Bucaille, dsb. Tidak bisa tidak, #TitikBa sangat dipengaruhi semua bacaan itu.

Namun, satu kalimat yang paling berbekas dari Gontor adalah “Gontor berdiri di atas dan untuk semua golongan”. Kalimat itu terpatri kuat dan sampai saat ini masih saya pegang teguh, entah sampai kapan.

Matematika Detik Bukan Sarana Politik

Belum lama ini, beberapa teman mengingatkan, supaya Matematika Detik tidak terlalu jauh masuk ke politik. Rupanya mereka khawatir apabila Matematika Detik dipersepsikan dekat dengan golongan tertentu. Apalagi ini musim PILKADA.

Tentu saja, Matematika Detik dekat dengan semua golongan. Tentu saja, kalau ada gagasan dan terobosan yang lolos uji nyali, milik calon kepala daerah mana pun, saya akan dukung. Tapi sejauh ini mana gagasan itu? Yang ada adalah muka cengengesan di pinggir jalan.

Baca Juga : Gagasan Tidak Boleh Kalah Dengan Coblosan

Banyak yang salah mengira. Ketika Titik Ba terbit, saya diduga sebagai pendukung bupati H Agus Riyanto (AR), yang notabene dianggap musuhnya Ki Enthus Susmono. Maka tatkala AR lengser, kemudian digantikan oleh Enthus, entah siapa yang memberi komando, saya seolah diserang kolega dari banyak penjuru.

Tatkala wakil bupati Hj Umi Azizah meluncurkan Matematika Detik, berkembang lagi persepsi serupa. Banyak yang tidak tahu, bahwa selain sebagai penulis Titik Ba, saya adalah juara 1 lomba ke-NU-an (1993). Tentu saja dukungan wakil bupati bukan karena saya seorang kader NU, melainkan karena Matematika Detik memang –insya Allah– karya yang bermanfaat. Kata rektor ITB, “Matematika Detik adalah karya yang luar-biasa.” Apa tidak aneh kalau pemerintah daerah menutup mata?

Baca Juga : Matematika Detik, Visi dan Misi Kabupaten Tegal

Beberapa hari yang lalu, wakil ketua komisi X DPR-RI, Drs A Fikri Faqih, menghubungkan Matematika Detik dengan Balitbang Kemendikbud. Itu adalah inisiatif beliau, seorang politisi PKS. Apa itu berarti saya kader PKS?

Nalar sebagian masyarakat kita sudah mulai rusak, menjadi politik-sentris. Mereka memuja tokoh politik seperti mereka memuja pemain sepakbola. Fanatik dengan golongan, seperti mereka fanatik dengan Real Madrid atau Barcelona.

Tetaplah waras. Sangat mungkin mereka yang maju ke PILKADA, atau para pendukungnya yang mencela calon lawan yang padahal tidak pernah menyakiti hati mereka, hanyalah sedang mencari jabatan atau mencari proyekan. Otak dan hati para calon sangat mungkin tidak lebih baik daripada anda, buat apa dibela-bela seolah tanpa cela? Tetaplah waras.

PENDIDIKAN DI ATAS PERPOLITIKAN

Tinggalkan komentar

Tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *