“Misalkan air laut dijadikan tinta, dan daun-daun diseluruh jagat ini dijadikan kertasnya, masih belum cukup untuk menuliskan ilmu Allah, Ki Sanak,” ujar Sunan Bonang.
“Tidak sebanyak itu yang saya mau tuntut. Saya cuma perlu satu titik. Di titik Ba itu, Kanjeng,” balas Raden Mas Syahid yang kelak bergelar Sunan Kalijaga. (Sumber film “Sunan Kalijaga”, 1984)
Sebenarnya istilah dan filosofi Titik Ba telah melampaui masa seribu tahun. Konon berasal dari kalimat ‘Ali bin Abu Thalib karramallahu wajhahu (599-661), “Aku adalah titik di bawah huruf ba pada basmalah.” Saya sendiri jatuh cinta kepada Titik Ba pada pendengaran pertama, tatkala ngaji kitab kuning Safinatun Naja kepada bapak. Namun, Titik Ba yang ada di hadapan anda ini tidak muncul dari pesantren, bukan sudut pandang santri tulen, melainkan lebih sebagai ijazah (bukti intelektual) dari perguruan teknik tertua di Indonesia: Institut Teknologi Bandung (ITB).
4 Maret 2006, upacara wisuda di Gedung Sabuga (Sasana Budaya Ganesha). Tepat sehari sebelumnya, saya menerima apresiasi tertulis dari rektor ITB saat itu, Prof Dr Ir Djoko Santoso MSc untuk Titik Ba ini. Setahun kemudian, sesudah terbit oleh penerbit nasional Mizan Pustaka, sang rektor menganjurkan dan membagikan Titik Ba ke seluruh dekan di lingkungan almamater Bung Karno dan BJ Habibie itu. Sebuah penghargaan laka-laka untuk sebuah karya lulusan S1 yang terancam dropout, bukan?
Gamblang, inspirasi Titik Ba tidak bisa terlepas dari Institut Teknologi Bandung (ITB), tempat saya dididik sebagai ‘tukang insinyur’, bukan seorang filosof atau ilmuwan teoretis. Pekerjaan engineering adalah menemukan solusi praktis, merancang dan mengelola sebuah perubahan yang terukur; lebih peduli pada kemanfaatan, bukan klaim kebenaran. Karena demikian latar belakangnya, ujian utama bagi Titik Ba ini bukankah apakah ia ‘benar’, apakah sesuai dengan yang dimaksud oleh ‘Ali bin Abu Thalib atau Sunan Kalijaga? Sebaliknya, apakah ia merupakan gagasan yang solid, terus tumbuh dan bermanfaat nyata? Mengikuti manifesto ilmiah dari Francis Bacon sekitar 3 abad lampau (1620), bahwa “pengetahuan adalah kekuatan”, maka pertanyaan yang lebih tepat diajukan adalah “apakah teori anda memperkuat posisi Homo sapiens?” Tidak ada teori yang 100 persen benar, sehingga kebenaran menjadi ujian lemah bagi pengetahuan.
Mungkin seirama dengan manifesto ilmiah Bacon, Titik Ba yang ada di hadapan anda ini, sebaiknya diperlakukan seperti model atom Dalton ketimbang sebuah tafsir ala pesantren. Model atom dipelajari dengan saksama, bukan karena ia benar, melainkan karena ia bermanfaat. Sejarah mencatat bahwa Dalton keliru, , begitu pula J.J Thomson, Rutherford dan Bohr. Memang, tapi faktanya model atom tercatat dalam sejarah karena telah menginspirasi dan memandu sebuah perubahan yang sistematis dan terukur.
Walaupun demikian, mengikuti jejak al-Quran sebagai kitab sastra agung, berbeda jalur dengan model atom, Titik Ba tidak dimaksudkan sebagai karya yang gersang tanpa muatan emosi. Titik Ba tidak bermaksud hanya menyentuh nalar anda, sebaliknya juga berusaha mengusik kepekaan hati anda. Ini tentang aksara dan semesta, tentang sastra dan logika. Dalam hal ini, sedikit-banyak saya adalah pendukung “sains puitis”, sebuah istilah yang dipopulerkan oleh Lady Ada Lovelace (1815-1852), sosok inspiratif di balik revolusi digital.
Suatu kebetulan, ketika sedang merintis Portal atau Poros Digital Tegal Jepangnya Indonesia (POTJI), 2015-2016, saya bertemu kembali dengan seorang murid saya, anak teknik yang sangat menggemari sastra. Mungkin dia tampak seperti titisan Ada, tapi bagi saya seolah saya menemukan bayangan diri saya sendiri. Api sastra yang meredup mulai terang kembali. Saya kembali dapat menikmati tenggelam dalam karya sastra, sesuatu yang selama ini kurang saya pedulikan.
Namun, Titik Ba tidak bermaksud berdialog dengan revolusi digital, atau apresiasi sastra. Ini tentang manusia seutuhnya, melampaui sekadar logika atau aksara.
Sesuai dengan subjudulnya, Paradigma Revolusioner dalam Kehidupan dan Pembelajaran, ada 2 (dua) jenis “revolusi” yang dicetuskan melalui Titik Ba: kehidupan dan pembelajaran. Apakah penulis Titik Ba akan terus konsisten untuk terus menafsirkan dan memperjuangkan Titik Ba? Wallahu a’lam. Apa yang hendak saya sampaikan di sini adalah catatan singkat perjalanan “revolusi Titik Ba” selama satu dasawarsa (2007-2017).
REVOLUSI PERTAMA: KEHIDUPAN
Pandangan gelap. Sinar matahari yang redup terhalang awan. Sore yang gelap semakin gelap. Setiap sorot lampu kendaraan tampak seperti mata naga yang kalap.
Tiba-tiba ponsel berdering. Memberi alasan menepi. Sejenak berhenti, untuk menyimak siapa hendak bicara apa. Mungkin saja penting. Mungkin juga sekadar menyapa.
“Mas Thoha, ada siswa yang stress,” terdengar suara seorang guru SMA Negeri 1 Kota Tegal, yang berarti dulu guru saya juga.
Sebuah berita aneh. Siapa saya? Psikiater bukan. Paranormal bukan.
“Ada siswa stress kok menghubungi saya, Pak?”
“Dia stress gara-gara Titik Ba.”
Tidak lama setelah itu saya jadi tahu, bahwa cerita “gila” gara-gara Titik Ba bukan fenomena langka. Banyak remaja putih abu-abu, yang sanggup menyelami bacaan berat, terjangkit wabah serupa. Hanya saja mereka, kecuali sang ketua OSIS yang sedang menjadi lakon tadi, tidak sampai berteriak-teriak seperti kesurupan. Tahun itu 2007, media sosial belum mewabah. Tapi cerita itu menjalar cepat, bahkan seorang jurnalis KOMPAS—saat melakukan wawancara—mengaku teringat peristiwa satu dekade lalu itu. Wajar apabila petugas Perpustakaan Daerah sampai-sampai menerapkan aturan khusus: yang belum lulus SMA tidak boleh meminjam Titik Ba.
Sebegitukah beratnya? Apa itu “Titik Ba”? Mungkin ketiga kalimat ini cukup mengawali keingintahuan anda: Segalanya satu, utuh tak terbagi dan pada hakikatnya tidak ada; setiap insan adalah pusat jagad raya; kesesatan terbesar adalah prasangka keras kepala bahwa jagad raya ini ada.
Harus diakui, tersimpulkan berdasarkan pengakuan banyak pembaca, bahwa Titik Ba bukan bacaan untuk semua. Salah seorang di antara mereka adalah Mas Tom, nama akrab Utomo Dananjaya (6 Februari 1936-22 Juli 2014), pendiri Universitas Paramadina. Sahabat terdekat Nurcholish Madjid (1939-2005) itu merasa perlu membacanya berulang-ulang.
Jadi, apa itu Titik Ba? Penggalan tulisan dari Mbak Mugniar Marakarma, seorang blogger ternama dari Makassar, Sulawesi Selatan, berikut ini mungkin cukup mewakili kesan dari banyak pembaca:
“Sekitar 6 bulan, mungkin malah lebih, saya menyelesaikan membaca buku ini. Tidak ringan membacanya karena muatannya yang begitu sarat. Sarat makna dan sarat pengetahuan. Saya begitu menikmati membacanya walau tak mudah memahaminya. Saya mengurai pesan-pesannya dengan perlahan-lahan, sesekali berhenti untuk merenungkannya sekaligus mengagumi cara bertutur penulisnya, lalu membacanya lagi.
Dengan tulus saya mengakui kalau saya begitu jatuh cinta pada buku ini. Latar belakang pendidikan saya di bidang eksakta dan ketertarikan saya pada bidang pengembangan diri, psikologi populer, pendidikan praktis, filsafat, dan tasawuf membuat saya merasa asyik sekali mengunyah isi buku ini. ”
Berdasarkan pengamatan selama satu dasawarsa ini, tampaknya saya tidak terlalu buruk berbagi kebingungan dan keresahan: sedikit-banyak Titik Ba turut memicu perubahan psikologis para pembaca. Sebuah revolusi kehidupan, atau “revolusi mental” dalam istilah Presiden Jokowi, pada level individu.
Bagaimana dengan revolusi kehidupan pada level masyarakat?
Selama ini kita berharap agama menjadi benteng yang kokoh untuk menghadapi kebencian dan kejahatan. Faktanya, agama mudah memicu sikap dan perilaku irasional, sehingga mudah disalahgunakan untuk melakukan pembodohan, pembunuhan dan penipuan masif. Masihkah berharap mendapatkan inspirasi dan solusi dari ajaran agama?
Ternyata, setelah didekati dan didalami, masalah tidak sesederhana yang tampak dari kejauhan. Gagasan yang termaktub di Titik Ba baru sebentuk embrio, bahkan belum layak disebut embrio. Masih perlu penggalian lebih dalam, perlu mikroskop maupun teleskop yang lebih tajam resolusinya. The devils are in the details. Siapakah yang mau meluangkan waktu? Mungkin jawabannya adalah anda.
REVOLUSI KEDUA: PEMBELAJARAN
Ada sebuah teori psikologi menarik yang dikenal sangat luas, bahwa untuk menguasai keahlian kelas dunia, siapapun perlu melakukan kegiatan yang ditekuninya itu selama 10 ribu jam. Berapa lama itu? Sebagai patokan kasar, 10 ribu latihan itu kurang-lebih setara dengan 10 tahun kalender. (Karena mustahil orang tidak beristirahat sepanjang hari sepanjang tahun, bukan?)
Ambil contoh proses panjang di balik penemuan ilmiah paling anggun sepanjang sejarah: Teori Relativitas. Pencarian Albert Einstein berawal pada 1895, ketika ia yang waktu itu berusia 16 tahun membayangkan rasanya melaju bersama seberkas cahaya. 10 tahun kemudian, yakni pada 1905, tibalah tahun keajaiban, Einstein menerbitkan empat makalah yang menggemparkan dunia fisika, salah satunya adalah apa yang kemudian disebut Teori Relativitas Khusus. Sekali lagi, 10 tahun kemudian, yakni pada 1915, Einstein selesai merumuskan Teori Relativitas Umum.
Bagaimana dengan 10 tahun Titik Ba?
Meminjam istilah dari Prof.Ir.Harsono Taroepratjeka,MSIE,Ph.D (1939-2016), salah satu founding fathers keilmuan teknik industri di Indonesia, dalam kata pengantar untuk buku ini, Titik Ba adalah tentang bagaimana memulai dari keutuhan dalam pikiran. Atau meminjam kalimat Erwin Schrodinger, “Consciousness is never experienced in the plural, only in the singular.” Tepat sekali, keutuhan tak terbagi—melampaui sekadar istilah “keterhubungan” di antara segala fenomena—menjadi tema sentral buku ini.
Seharusnya tidak ada keraguan atas keyakinan—yang dalam istilah Islam disebut—TAUHID tersebut. Dengan demikian, sekali lagi, bahwa tantangan berikutnya adalah bagaimana memulai tindakan, bergerak dari awal dan menapaki jejak demi jejak secara terperinci. Dengan kalimat lain, bagaimana semangat tauhid diterjemahkan menjadi solusi praktis sehari-hari, lebih dari sekadar inspirasi atau motivasi, apalagi hanya sebagai pemanis bibir.
“Titik Ba, jika diterjemahkan lebih lanjut, insya Allah akan memberi manfaat besar dalam pendidikan,” kalimat serupa itu saya sampaikan empat mata kepada dua sosok yang berbeda. Kepada Agus Riyanto, bupati Tegal saat itu, saya tambahi kalimat “di Kabupaten Tegal.” Kepada Utomo Dananjaya, direktur Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina, tentu saja cakupannya lebih luas “di Indonesia.”
Ada masalah besar di fondasi sistem dan budaya pendidikan kita. Kucuran dana APBN di atas 20 persen bukan jawaban. Laporan dari Bank Dunia baru-baru ini tidak terlalu mengejutkan: Indonesia perlu waktu yang sangat lama untuk bisa mengejar ketertinggalan di bidang kemampuan membaca (45 tahun) dan sains (75 tahun). Jadi, gagasan yang tidak biasa, sebuah terobosan, adalah tuntutas mendesak.
Sejak awal penulisan, saya berniat menjadikan Titik Ba terutama sebagai bagian solusi di bidang pendidikan. Namun sejarah tidak berdusta: tidak mudah untuk menerjemahkan gagasan apapun sampai tataran operasional. Omong-kosong itu mudah, kebalikannya adalah pertaruhan besar. Tidak bisa tidak saya melakukannya siang-malam, bahkan akibatnya ijazah resmi dari ITB tergeletak di lemari. Dari mana tindakan dimulai? Saya mengajar les privat dari pintu ke pintu. Tentu saja, sebagai kepala keluarga, semua itu bukan hanya untuk mengejar idealisme. Itu adalah cara membeli beras dan membayar tagihan listrik.
Ternyata 10 tahun berlalu. Masa yang sangat panjang meski hanya sejenak manakala dikenang, tidak lebih lama ketimbang waktu yang diperlukan untuk menyeruput secangkir kopi hitam tanpa gula. Satu, dua, tiga, … sembilan, sepuluh tahun pun terbilang. Kadang sesekali terbersit pula mengapa saya menempuh jalan yang tidak lazim ini. Namun seiring waktu saya dapat menari mengikuti dan menikmati alunan dan ayunan takdir. Seperti kata filsuf Arthur Schopenhaeur, “Seorang manusia bertindak semaunya, tetapi bukan seperti yang dia mau.”
Min ‘alamatin nujhi fin nihayah, ar-ruju’ illa-llahi fil bidayah (termasuk tanda kemenangan di akhir adalah merujuk kepada Allah sedari awal). Siapapun tidak pernah bisa menembus kabut masa depan. Sesekali kita perlu menutup telinga dan mata, dengarkan dan ikuti saja kejernihan suara hati, mendengarkan Tuhan sedang berbisik. Bahwa setiap orang unik dan istimewa, begitu pula misi hidupnya. Maka sewajarnya dan seharusnya saya—satu dari miliaran manusia—pun bertanya: untuk apa aku diciptakan?
Berkaitan dengan masalah takdir, Einstein pernah ditanya, apakah anda percaya bahwa manusia adalah makhluk bebas? “Tidak, saya seorang determinis,” jawabnya. “Semuanya sudah ditentukan, dari awal hingga akhir, oleh kekuatan yang tidak bisa kita kendalikan. Semuanya sudah ditentukan, baik untuk serangga maupun bintang. Manusia, sayuran, atau debu kosmis, kita semua berdansa mengikuti irama misterius yang dimainkan dari jauh oleh sosok yang tak kasatmata. ”
Dalam teologi Islam, ajaran Einstein sejalan dengan aliran jabbariyyah (paham ketiadaan kehendak bebas manusia). Tentu saya tidak sepenuhnya setuju dengan Einstein, antara lain pada kata “dari jauh” karena Tuhan tidaklah jauh; Dia lebih dekat ketimbang urat leher kita (QS.50:16). Karena keyakinan jabbariyah, orang Yahudi terbesar di era modern itu tidak bisa menerima penjelasan probabilistik yang diajukan oleh mekanika kuantum, antara lain bahwa elektron memiliki “kehendak bebas”, yang serupa dengan paham qadariyyah. Namun demikian, upaya keras sang pencetus Teori Relativitas untuk meretas sistem pemikiran qadariyyah secara serius itulah mekanika kuantum menjadi semakin matang dan terus berdentum. Lawan pendapat, kawan berpikir! Fakta sejarah membuktikan bahwa, baik Einstein yang jabbariyyah maupun pendukung mekanika kuantum yang qadariyyah, keduanya memberi sumbangan besar pada perkembangan sains dan peradaban.
Rabu, 8 Agustus 2017, profil saya muncul di halaman muka SUARA MERDEKA, harian terbesar di Provinsi Jawa Tengah. Bukan sebagai penulis Titik Ba, melainkan sebagai pendiri Kampung Matematika Detik. Alhamdulillah, saat ini puluhan ribu siswa dan guru telah menikmati Matematika Detik, meski hanya secuil, melalui gerakan berantas gagap hitung. Matematika Detik juga sudah mulai diterima di kalangan akademis. Sejumlah penelitian dari beberapa perguruan tinggi, termasuk tesis dari ITB, terus datang silih berganti. Dengan kelahiran kembali Titik Ba, masyarakat wa bil khusus kalangan terdidik sebaiknya tahu bahwa ia adalah satu dari banyak kemungkinan terapan Titik Ba sebagai paradigma revolusioner dalam pembelajaran. Sebagai catatan: dalam pandangan Titik Ba, matematika yang adalah bagian dari spiritualitas, sebuah instrumen untuk membebaskan diri dari ilusi duniawi atau materialiasme.
Itu baru langkah mungil. Matematika Detik sendiri direncanakan diterbitkan oleh penerbit nasional secara berseri. Seri ke-1 berjudul “Inspirasi, Fondasi dan Garis Besar” telah terbit pada Maret 2017. Sama seperti sumber inspirasinya, yakni Titik Ba, Matematika Detik mendapat apresiasi dari rektor ITB. Kali ini, Prof.Dr.Ir.Kadarsah Suryadi, DEA, seorang dosen yang sempat menyelamatkan saya dari ancaman dropout, melalui pesan Whatsapp mengatakan, “Selamat, Mas Thoha, atas sebuah karya yang luar-biasa.”
Tidak seperti sarjana yang baru mentas dari kampus, yang bingung mau ke mana, sekarang tantangan hidup terang-benderang. Ada benarnya pepatah yang mengatakan, “Life begins at forty.”
SAMBUT USIA 40 TAHUN
Kalender masehi (solar system) dan hijriyah (lunar system) berbeda sekitar 11 hari dalam setahun. Berdasarkan kalender hijriyah, pada Senin Pahing tanggal 25 Sya’ban 1438 bertepatan dengan tanggal 22 Mei 2017 genap sudah usia saya 40 tahun. Di sisi lain, pada kalender masehi adalah 31 Juli 2018, berselisih 1 tahun 70 hari lebih lambat. Setiap manusia yang diberkahi usia melampaui bilangan 40 melalui masa istimewa tersebut.
Benarkah istimewa? Jika kita menganggap usia 40 tahun itu sebagai sesuatu yang istimewa, maka jadilah ia istimewa. Jika tidak, ya tidak. Realitas—apalagi realitas sosial—adalah apa yang kita persepsikan. Bagaimana dengan anda? Namun, al-Qur’an tepatnya pada al-Ahqaf (46):15, menyatakan bilangan 40 dalam umur manusia secara eksplisit. Artinya usia 40 tahun adalah istimewa. Pastilah bukan kebetulan bahwa tugas kenabian datang kepada para nabi pada saat mereka berusia 40 tahun. Jadi, inilah momentum yang tepat untuk Titik Ba untuk terlahir kembali.
Kali pertama Titik Ba terbit pada 2007 tatkala usia saya masih kepala dua. Pada cetakan terbatas, tertulis Oktober 2006, artinya usia saya menginjak bilangan 28. Apakah rambut cukup beruban untuk mengusung karya seberat itu? Apakah buku yang saya tulis bukan sebentuk sikap overconfident? Saya telah menjawab hal itu pada Kata Pengantar satu dekade lalu dan tidak perlu ada pengulangan di sini. Yang jelas, pada catatan sejarah, membuat karya penting sebelum usia 40 tahun adalah lumrah. “Semua yang benar-benar baru hanya ditemukan semasa muda,” keluh Einstein kepada seorang teman setelah menyelesaikan karyanya dalam relativitas umum dan kosmologi. “Kemudian, seseorang menjadi lebih berpengalaman, lebih terkenal—dan lebih bebal.”
Dunia, Indonesia, Tegal dan keluarga kami tidak sama lagi dibanding satu dasawarsa lalu. Di tengah perubahan yang bergegas, ternyata konten Titik Ba tetap relevan, bahkan terasa semakin relevan, semakin kokoh menjadi panduan. Ketika membaca apapun, baik yang terbentang di atas kertas maupun di atas pentas jagad raya, tidak lagi saya temukan keresahan atau kebingungan besar, justru sebaliknya yang selalu saya tangkap adalah keutuhan dan keterpesonaan. Tidak ada lagi kegilaan yang sempat saya—dan semua orang terdekat—cemaskan. Apa yang tertinggal dan perlu ditaklukkan adalah perincian kecil tapi konkret; tugas rekayasa, bukan filsafat. Semoga saja hal itu bukan pertanda—seperti yang dikhawatirkan Einstein pada orang yang memasuki usia 40 tahun—saya mulai mengidap kebebalan. Oleh karena itu, bismillah, saya terus dan akan terus berpikir terbuka.
***
Sampai naskah lengkap, saya tidak terpikir bahwa Titik Ba berkaitan dengan Sunan Kalijaga (diperkirakan lahir sekitar tahun 1450), salah seorang anggota Walisongo yang sangat layak menjadi teladan utama santri Nusantara. Sampai suatu saat di dalam kampus ITB, pada tahun 2006, seorang kawan bergegas menghampiri hanya untuk memperkenalkan dialog tentang titik ba dalam film “Sunan Kalijaga” (1984).
Satu kisah lagi, seorang kawan lainnya, yang waktu itu adalah aktivis Salman ITB, mengatakan, bahwa “batik”—sebutan busana khas nusantara yang telah mendunia— berasal dan terinspirasi filosofi Titik Ba: ba-(ti)tik. Adalah Haji Samanhudi (1868-1956), pengusaha batik asal Surakarta yang dikenal luas sebagai pendiri SDI (Sarekat Dagang Islam), yang berjasa mempopulerkan istilah “batik”. Sayang sekali, kami tidak mendapatkan bukti autentik.
SDI, yang didirikan Oktober 1905 sebagai organisasi pertama yang lahir di Indonesia, kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam, dengan HOS Tjokroaminoto sebagai tokoh sentralnya. Sejarah mencatat, kediaman Tjokroaminoto adalah tempat masa muda sejumlah nama besar bangsa ini dengan ideologi yang bahkan saling berperang: Semaoen, Alimin, Muso, Soekarno, Kartosuwiryo dan Tan Malaka. Tidak ada catatan sejarah, apakah HOS Tjokroaminoto dan semua murid-muridnya itu pernah mengenal Titik Ba. Satu yang “pasti” adalah bahwa filosofi Titik Ba telah berakar kuat di atas bumi Nusantara lebih dari 5 abad.
Saya tidak sedang mengajak anda bersepakat dengan saya, dengan Titik Ba. Saya percaya, panduan hidup paling jernih ada dalam diri setiap orang dan tak terbahasakan. Oleh karena itu, melalui Titik Ba, saya hanya ingin menjadi sahabat dekat anda tatkala asyik tenggelam dalam upaya membaca semesta dan menemukan siapa diri anda sendiri.
Tegal, 1 Desember 2017 / 12 Rabi’ul Awwal 1439
Ahmad Thoha Faz
UCAPAN TERIMA KASIH:
“Sulit sekali beranjak dari 0 ke 1 tanpa sebuah tim,” tulis Peter Thiel dalam Zero to One (2014). Ketiadaan tim, itulah alasan di balik “keterlantaran” Titik Ba. Memang saya lebih banyak berfokus pada penerjemahan Titik Ba ketimbang upaya menerbitkan ulang. Perjumpaan dengan Hiratha Corporation, bagi kami, adalah keajaiban. Terima kasih kepada Pak Arif Utomo dan semua tim Hiratha, yang memungkinkan Titik Ba dapat terlahir kembali.
Terima kasih kepada keluarga Faz-Nur, atas pengertian dan waktunya yang banyak tercuri: istri Siti Nurhayati dan ketiga anak kami: Muhammad Royhan Asoka (kelas 6 SD), Ahmad Bima Amarta (kelas 1 SD), dan bayi cantik Athiyya Hanifatin (lahir 11 Juni 2017).
MENELUSURI GARIS WAKTU (CATATAN 10 TAHUN TITIK BA)

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *