Perhatikan soal nomor 1,2,3 dan 4.Keterangan foto tidak tersedia.

“Apa rumusnya?”
Pertanyaan konyol yang rutin diajukan. Tentu saja tidak muncul tiba-tiba. Kekacauan dan kebodohan mendasar itu dibiasakan melalui proses mahal yang bernama pendidikan.

“Saya tidak tahu,” saya jawab lugas. Bukan karena rendah hati lalu berbasa-basi, melainkan karena memang saya tidak tahu.

“Mari kita pahami setiap kata pada soal. Semua jawaban terkandung pada soal. Mari kita ekspresikan pikiran kita dengan gambar.”

Satu demi satu soal terpecahkan. Matanya berbinar.

“Wah, di sekolah kok kelihatannya rumit banget. Ada rumus ini, rumus itu.”

Menghafal rumus adalah tindakan yang lebih daripada sekadar bodor, itu sangat merusak.

“Jadi, apakah rumus tidak perlu?”

“Perlu. Rumus itu perlu tapi hanya pada saat kamu paham, sehingga rumus sejatinya tidak diperlukan.”

Kadang saya merasa lelah terus mengatakan, bahwa segalanya adalah satu, utuh tak terbagi dan sejatinya tidak ada. Semua rumus sejatinya tidak ada. Juga jagad raya ini sejatinya tidak ada. Itulah #TitikBa. Itulah #MatematikaDetik.

Sekarang, kami sedang fokus menanamkan Titik Ba pada pemecahan soal praktis. Terbayang spontan wajah Mas Tom (almarhum Utomo Dananjaya), pendiri Universitas Paramadina. Tepat demikian itulah yang kami cita-citakan, sejak sekitar 11 tahun silam.

Tidak mudah, tapi semoga kami tidak salah arah.

LUPAKAN SEMUA RUMUS, KEMBALILAH KE TITIK BA

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *