Matematika  Detik (Second Mathematics), kapan habisnya?.

Saya tidak tahu. Yang jelas, ia tidak mungkin ditanggung seorang diri. Saat ini, dari 5 seri yang rencananya diterbitkan oleh PT Intan Pariwara Group baru satu seri yang sudah jadi. Baru INSPIRASI, FONDASI DAN GARIS BESAR. Masih ada 4 seri lagi, yang bersifat aplikatif.

Yang baru diperkenalkan saat ini baru Level A (BACA ANGKA SECEPAT BACA KATA), yang saat ini sedang dipersiapkan bukunya, yaitu buku Matematika Detik seri ke-2. Setelah itu ada Level B (OTAK BUKAN KALKULATOR), LEVEL C (BERPIKIR SEBELUM BICARA) dan LEVEL D (POLA PIKIR INOVATOR). Semua itu berkaitan dengan “berpikir cepat”. Setelah itu, baru MATEMATIKA UTAMA (First Mathematics) yang berkaitan dengan “berpikir lambat”.

Ini tugas besar, yang tanpa kolaborasi hampir dipastikan tidak akan selesai.

Pemerintah Kabupaten Tegal, melalui bupati Agus Riyanto, adalah organisasi yang pertama saya ajak bekerja sama untuk membumikan #TitikBa. Peluncuran Titik Ba, pada 25 Juli 2007, adalah momentum pembuka. Ya, Matematika Detik hanyalah satu ranting penerapan Titik Ba.

IER Universitas Paramadina adalah organisasi yang kedua, melalui Utomo Dananjaya, pendiri IER yang juga pendiri Universitas Paramadina. Meski jauh lebih kecil ketimbang Pemkab Tegal, perguruan tinggi yang membesarkan nama Anies Baswedan itu bereputasi nasional.

Kepala daerah berganti, saya memperbaharui kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Tegal, yaitu saat ini melalui Wakil Bupati Hj Umi Azizah. Peluncuran buku Matematika Detik (MD) seri-1 di acara MUSRENBANG Kabupaten, 30 Maret 2017, adalah lanjutan peristiwa Juli 2007.

Sekarang sedang berproses. Ini akan mendongkrak pendidikan dan ekonomi kreatif sekaligus apabila Kamp dan Kampung Matematika Detik bisa terwujud. Ribuan siswa terbebas dari gagap hitung. Ribuan wisatawan datang dan homestay di Tegal.

Bagaimana yang level nasional?

Jawaban sangat jelas: ITB. Ini kesempatan untuk “pulang”. Semasa Titik Ba, rektor Prof Djoko Santoso menganjurkan untuk dibaca dan menyebarkan ke seluruh dekan di ITB. Itu 10 tahun lalu.

Matematika Detik seharusnya lebih baik. Rektor ITB saat ini sudah menyatakan Matematika Detik sebagai karya yang luar-biasa. Kami menunggu kata pengantar resmi dari beliau untuk langkah berikutnya.

Di luar dugaan, Wakil Ketua Komisi X DPR-RI, Ustadz A Fikri Faqih menawarkan dan mengajukan Matematika Detik untuk bisa dipresentasikan di Balitbang Kemendikbud. Rencananya dari PPMD (Perhimpunan Pengembangan Matematika Detik) yang diundang adalah saya dan dua sahabat lainnya, dari Pulau Lombok, NTB dan Palembang, Sumatera Selatan.

Matematika Detik Level Tegal Dan Nasional

Tinggalkan komentar

Tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *