“Segalanya satu, utuh tak terbagi dan pada hakikatnya tidak ada.”
4 Maret 2006, di Gedung Sabuga (Sasana Budaya Ganesha), saya diwisuda sebagai sarjana teknik industri ITB. Tepat sehari sebelumnya, menerima apresiasi tertulis dari rektor ITB saat itu, Prof Dr Ir Djoko Santoso MSc untuk buku saya: Titik Ba. Setahun kemudian, tatkala sudah terbit pada Mei 2007, oleh penerbit nasional Mizan Pustaka, sang rektor menganjurkan dan membagikan satu dus Titik Ba ke seluruh dekan di lingkungan almamater Bung Karno dan BJ Habibie itu. Sebuah penghargaan luar-biasa untuk sebuah karya lulusan S1 yang terancam dropout, bukan?
Inspirasi Titik Ba tidak bisa terlepas dari Institut Teknologi Bandung (ITB), tempat saya dididik sebagai tukang insinyur, bukan seorang filosof. Sebagai insinyur, kepedulian utama adalah merancang dan mengelola sebuah perubahan yang terukur. Seorang insinyur atau ilmuwan lebih peduli pada kemanfaatan, bukan klaim kebenaran. Dengan demikian, ujian nyata bagi Titik Ba bukanlah apakah ia benar, apakah ia sesuai dengan yang dimaksud oleh ‘Ali bin Abu Thalib atau Sunan Kalijaga? Sebaliknya, apakah ia merupakan gagasan yang solid, terus tumbuh dan bermanfaat nyata? Mengikuti manifesto ilmiah dari Francis Bacon sekitar 4 abad lampau (1620), bahwa “pengetahuan adalah kekuatan”, maka pertanyaan yang lebih tepat diajukan adalah “apakah teori anda memperkuat posisi Homo sapiens?” Tidak ada teori yang 100 persen benar, sehingga kebenaran menjadi ujian lemah bagi pengetahuan.
Seirama dengan manifesto ilmiah Bacon, Titik Ba yang ada di hadapan anda ini, sebaiknya diperlakukan seperti model atom Dalton ketimbang sebuah tafsir ortodoks. Sejarah mencatat bahwa Dalton keliru. Memang, tapi faktanya Dalton tercatat dalam sejarah karena telah menginspirasi dan memandu sebuah perubahan yang sistematis dan terukur.
Namun, berguru pada al-Quran sebagai kitab sastra agung, saya tidak bermaksud menulis Titik Ba sebagai karya yang kering tanpa muatan emosi. Titik Ba tidak bermaksud hanya menyentuh nalar anda, sebaliknya juga berusaha mengusik kepekaan hati anda. Ini adalah tentang sastra dan logika. “Human mind is a story processor, not a logic processor,” kata pakar psikologi moralitas, Jonathan Haidt. Faktanya memang Titik Ba ditulis dari hati yang terdalam, pada suasana perenungan yang sangat mengguncang. Jadi tidak mungkin saya tidak berbagi cerita kegelisahan.
Sesuai judulnya, Titik Ba: Paradigma Revolusioner dalam Kehidupan dan Pembelajaran, ada 2 (dua) jenis “revolusi” yang dicetuskan melalui Titik Ba: kehidupan dan pembelajaran. Apakah Titik Ba berhasil menjalankan misinya? Wallahu a’lam. Sejarah-lah akan mencatat. Sekarang masih berproses. Sekarang masih berikhtiar. Apa yang hendak saya sampaikan di sini adalah catatan singkat perjalanan revolusi Titik Ba selama satu dasawarsa (2007-2017).
REVOLUSI PERTAMA: KEHIDUPAN
Pandangan gelap. Sinar matahari yang redup terhalang awan. Sore yang gelap semakin gelap. Setiap sorot lampu kendaraan tampak seperti mata naga yang kalap.
Tiba-tiba ponsel berdering. Memberi alasan menepi. Sejenak berhenti, untuk menyimak siapa hendak bicara apa. Mungkin saja penting. Mungkin juga sekadar menyapa.
“Mas Thoha, ada siswa yang stress,” terdengar suara seorang guru SMA Negeri 1 Kota Tegal, yang berarti dulu guru saya juga.
Sebuah berita aneh. Siapa saya? Psikiater bukan. Paranormal bukan.
“Ada siswa stress kok menghubungi saya, Pak?”
“Dia stress gara-gara Titik Ba.”
Tidak lama setelah itu saya jadi tahu, bahwa cerita semacam itu bukan satu-satunya. Banyak remaja putih abu-abu, yang sanggup menyelami bacaan berat, terjangkit wabah serupa. Hanya saja mereka, kecuali sang ketua OSIS yang sedang menjadi lakon pada cerita saya ini, tidak sampai berteriak-teriak seperti kesurupan. Tahun itu 2007, media sosial belum mewabah. Tapi cerita itu menjalar cepat, bahkan satu dekade kemudian seorang wartawati KOMPAS mengaku masih teringat. Wajar apabila petugas Perpustakaan Daerah sampai-sampai menerapkan aturan khusus: yang belum lulus SMA tidak boleh meminjam Titik Ba. Bagaimana dengan anda?
Harus diakui, tersimpulkan berdasarkan pengakuan banyak pembaca, bahwa Titik Ba adalah bacaan berat. Mas Tom, nama akrab Utomo Dananjaya (1936- 2014), mengaku membeli Titik Ba untuk dirinya dan dibagikan untuk sejumlah sahabatnya. Namun, pendiri Universitas Paramadina, bersama Prof.Dr.Nurcholish Madjid (1939-2005), itu merasa perlu membacanya berulang-ulang.
Jadi, penggalan tulisan dari Mbak Mugniar Marakarma, seorang blogger ternama dari Makassar, Sulawesi Selatan, berikut ini cukup mewakili kesan dari banyak pembaca:
“Sekitar 6 bulan, mungkin malah lebih, saya menyelesaikan membaca buku ini. Tidak ringan membacanya karena muatannya yang begitu sarat. Sarat makna dan sarat pengetahuan. Saya begitu menikmati membacanya walau tak mudah memahaminya. Saya mengurai pesan-pesannya dengan perlahan-lahan, sesekali berhenti untuk merenungkannya sekaligus mengagumi cara bertutur penulisnya, lalu membacanya lagi.
Dengan tulus saya mengakui kalau saya begitu jatuh cinta pada buku ini. Latar belakang pendidikan saya di bidang eksakta dan ketertarikan saya pada bidang pengembangan diri, psikologi populer, pendidikan praktis, filsafat, dan tasawuf membuat saya merasa asyik sekali mengunyah isi buku ini. ”
Sedikit-banyak Titik Ba turut memicu perubahan psikologis pembacanya. Sebuah revolusi kehidupan, atau “revolusi mental” dalam istilah Presiden Jokowi, pada level individu. Bagaimana dengan revolusi kehidupan pada level masyarakat?
Ketika catatan ini ditulis media massa sedang diramaikan berita penangkapan walikota Tegal, Siti Masitha Soeparno alias Bunda Sitha, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sebuah lembaga ikon era reformasi yang di arena lain sedang menghadapi perseteruan dengan DPR-RI. Berbeda dengan kasus megakorupsi KTP elektronik di sana, kasus yang menjerat walikota Tegal benar-benar di sini. Bagaimana dengan kasus korupsi di tempat tinggal anda?
Kebetulan sekitar 3 jam sebelum peristiwa itu, status Alfathri Adlin muncul di beranda Facebook saya dengan tulisan yang kebetulan seperti mewakili kegelisahan saya:
“Kenapa dengan sedemikian banyaknya kasus korupsi di Indonesia, tidak lahir suatu perenungan mendalam lagi orisinal atas fenomena korupsi di Indonesia, dan bukannya kita malah membiasakan diri dengan korupsi, atau bahkan menganggap korupsi itu biasa, lalu malah melontarkan istilah yang oxymoron: ‘budaya korupsi’ sebagai identitas kita. Seakan, gonjang-ganjing sedahsyat apapun tak jua membuat kita mulai berefleksi dan berpikir mendalam. Perlu gonjang-ganjing sedahsyat apalagi agar ‘pemikiran mendalam’ itu terlahirkan? Agar kita mulai mau berpikir secara mendalam dan bukan cuma cengengesan di sana sini?”
Terkait wabah korupsi, Titik Ba juga menawarkan solusi revolusioner. Namun substansinya tidak lain hanya semacam tafsiran atas solusi yang dibawakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (571-632) pada konteks kekinian. Yaitu, bahwa paradigma (pola pikir) kehidupan perlu dijungkir-balik secara diametral: kesadaran harus diutamakan di atas materi, kemanfaatan hidup harus digemakan ketimbang kebutuhan hidup. Sesederhana itukah? Tentu saja tidak.
Atas dorongan Pemerintah Kabupaten Tegal dengan alasan untuk kemudahan untuk membumikan Titik Ba, melalui bupati dan sekretaris daerah waktu itu, saya mengikuti seleksi dan akhirnya menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) terhitung sejak Januari 2010. Sebagai birokrat, saya menyaksikan sendiri, bagaimana pemalsuan dokumen kecil-kecilan untuk mengakali kucuran uang rakyat terus menjadi rutinitas birokrasi. Juga bagaimana birokrat datang ke kantor hanya untuk finger print dan setelahnya adalah pekerjaan basa-basi. Kenikmatan terletak pada tunjangan dan gaji bulanan, bukan pada tantangan pekerjaan. Mereka kehilangan gairah dan tujuan.
Selama ini kita berharap agama menjadi benteng yang kokoh untuk menghadapi kelesuan maupun keserakahan termasuk wabah korupsi. Faktanya, agama sangat mudah memicu sikap dan perilaku irasional, sehingga bahkan sangat dahsyat untuk melakukan pembodohan, pembunuhan dan penipuan masif. Ternyata, setelah didekati dan didalami, masalah tidak sesederhana yang tampak dari kejauhan. Sehingga gagasan yang termaktub di Titik Ba baru sebentuk embrio, bahkan belum layak disebut embrio. Masih perlu penggalian lebih dalam, perlu mikroskop maupun teleskop yang lebih tajam. The devils are in the details. Siapakah yang mau dan mampu meluangkan waktu dan mencurahkan perhatian untuk itu? Mungkin jawabannya termasuk adalah anda.
REVOLUSI KEDUA: PEMBELAJARAN
Ada sebuah teori psikologi menarik yang dikenal sangat luas, bahwa untuk menjadi benar-benar ahli, sebut saja keahlian kelas dunia, seseorang perlu melakukan kegiatan yang ditekuninya itu selama 10 ribu jam. Berapa lama itu? Sebagai patokan kasar, 10 ribu latihan itu kurang-lebih setara dengan 10 tahun kalender. (Karena mustahil orang tidak beristirahat sepanjang hari sepanjang tahun, bukan?) Ambil contoh proses panjang di balik penemuan ilmiah paling anggun sepanjang sejarah: Teori Relativitas. Pencarian Albert Einstein berawal pada 1895, ketika ia yang waktu itu berusia 16 tahun membayangkan rasanya melaju bersama seberkas cahaya. 10 tahun kemudian, yakni pada 1905, tibalah tahun keajaiban, Einstein menerbitkan empat makalah yang menggemparkan dunia fisika, salah satunya adalah apa yang kemudian disebut Teori Relativitas Khusus. Sekali lagi, 10 tahun kemudian, yakni pada 1915, Einstein selesai merumuskan Teori Relativitas Umum.
Bagaimana dengan 10 tahun Titik Ba? Meminjam istilah dari Prof.Ir.Harsono Taroepratjeka,MSIE,Ph.D (1939-2016), salah satu founding fathers keilmuan teknik industri di Indonesia, dalam kata pengantar untuk buku ini, Titik Ba adalah tentang bagaimana memulai dari akhir dan sekaligus dari keutuhan dalam pikiran. Dengan demikian, tantangan berikutnya setelah Titik Ba terbit adalah bagaimana memulai, bergerak dari awal, dan bagaimana membuatnya detail.
“Titik Ba, jika diterjemahkan lebih lanjut, insya Allah akan memberi manfaat besar dalam pendidikan,” kalimat serupa itu saya sampaikan empat mata kepada dua sosok yang berbeda. Kepada Agus Riyanto, bupati Tegal saat itu, saya tambahi kalimat “di Kabupaten Tegal.” Kepada Utomo Dananjaya, direktur Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina, tentu saja cakupannya lebih luas “di Indonesia.”
Mengapa sebegitu yakin? Sebenarnya keraguan sering datang juga. Namun, saya telah menemukan sebuah “paradigma”, sebuah mikroskop atau teleskop untuk melihat dengan jelas sesuatu yang selama ini tidak terlihat atau terlihat tapi tidak jelas: paradigma Titik Ba. Semua itu buat apa? Seperti tatkala Antonie Philips van Leeuwenhoek (1632-1723) mengintip melalui mikroskop buatannya, dan menemukan sejumlah besar mikroorganisme, saya menggunakan ‘mikroskop’ Titik Ba kali pertama untuk menyelisik masalah pendidikan.
Sungguh, ternyata pendidikan kita tidak baik-baik saja. Ada masalah besar di fondasinya. Maka saya meyakinkan dan mengikrarkan diri bahwa saya—dengan Titik Ba—siap memberikan sumbangan solusi. Tujuan saya bukan membangun bisnis, sebaliknya adalah menciptakan konsep dan instrumen yang dapat digunakan secara luas. Namun, omong-kosong itu mudah, kebalikannya adalah pertaruhan besar. Tidak mudah untuk menerjemahkan Titik Ba sampai tataran operasional. Tidak bisa tidak saya melakukannya sepenuh waktu siang-malam, bahkan akibatnya ijazah ITB tergeletak di lemari saja. Saya memulainya dengan mengajar les privat dari pintu ke pintu. Tentu saja saya tidak melakukan semua itu untuk mengejar idealisme semata. Itu juga adalah cara saya sebagai pemimpin keluarga untuk membeli beras dan membayar listrik.
Ternyata 10 tahun berlalu, masa yang sangat panjang meski hanya sejenak manakala dikenang, tidak lebih lama ketimbang waktu yang diperlukan untuk menyeruput secangkir kopi hitam tanpa gula. Satu, dua, tiga, … sembilan, sepuluh tahun pun terbilang. Kadang sesekali terbersit pula mengapa saya menempuh jalan yang tidak lazim ini. Namun seiring waktu saya dapat menari mengikuti dan menikmati alunan dan ayunan takdir. Seperti kata filsuf Arthur Schopenhaeur, “Seorang manusia bertindak semaunya, tetapi bukan seperti yang dia mau.”
Min ‘alamatin nujhi fin nihayah, ar-ruju’ illa-llahi fil bidayah (termasuk tanda kemenangan di akhir adalah merujuk kepada Allah sedari awal). Siapapun tidak pernah bisa menembus kabut masa depan. Sesekali perlu kita menutup telinga dan mata, dengarkan dan ikuti saja kejernihan suara hati, yang tidak lain adalah suara Tuhan. Setiap orang unik dan istimewa. Maka sewajarnya dan seharusnya saya—satu dari miliaran manusia—pun bertanya: untuk apa aku diciptakan? Saya yakin, bahwa saya memilih Titik Ba sebagai jalur kemanfaatan hidup tidak terlepas dari rencana Tuhan.
Berkaitan dengan masalah takdir, Einstein pernah ditanya, apakah anda percaya bahwa manusia adalah makhluk bebas? “Tidak, saya seorang determinis,” jawabnya. “Semuanya sudah ditentukan, dari awal hingga akhir, oleh kekuatan yang tidak bisa kita kendalikan. Semuanya sudah ditentukan, baik untuk serangga maupun bintang. Manusia, sayuran, atau debu kosmis, kita semua berdansa mengikuti irama misterius yang dimainkan dari jauh oleh sosok yang tak kasatmata. ”
Dalam teologi Islam, ajaran Einstein sejalan dengan aliran jabbariyyah (paham ketiadaan kehendak bebas manusia). Tentu saya tidak sepenuhnya setuju dengan Einstein, antara lain pada kata “dari jauh” karena Tuhan tidaklah jauh; Dia lebih dekat ketimbang urat leher kita (QS.50:16). Karena keyakinan jabbariyah, orang Yahudi terbesar di era modern itu tidak bisa menerima penjelasan probabilistik yang diajukan oleh mekanika kuantum, antara lain bahwa elektron memiliki “kehendak bebas”, yang serupa dengan paham qadariyyah. Namun demikian, upaya keras sang pencetus Teori Relativitas untuk meretas sistem pemikiran qadariyyah secara serius itulah mekanika kuantum menjadi semakin matang dan terus berdentum. Lawan pendapat, kawan berpikir! Fakta sejarah membuktikan bahwa, baik Einstein yang jabbariyyah maupun pendukung mekanika kuantum yang qadariyyah, keduanya memberi sumbangan besar pada perkembangan sains dan peradaban.
Rabu, 8 Agustus 2017, profil saya muncul di halaman muka SUARA MERDEKA, harian terbesar di Provinsi Jawa Tengah. Bukan sebagai penulis Titik Ba, melainkan sebagai pendiri Kampung Matematika Detik. Masyarakat awam tidak harus tahu bahwa Matematika Detik adalah satu dari sekian terapan Titik Ba sebagai paradigma revolusioner dalam pembelajaran. Bagi mereka, yang penting Matematika Detik menjadi solusi konkret untuk masalah besar di depan mata. Alhamdulillah, saat ini puluhan ribu siswa dan guru telah menikmati Matematika Detik, meski hanya secuil, antara lain melalui Kampung Matematika Detik yang tersebar di 38 desa / kelurahan di Kabupaten Tegal.
Itu baru langkah mungil dan belum stabil. Buku Matematika Detik sendiri direncanakan diterbitkan oleh penerbit nasional dalam 5 (lima) seri. Seri ke-1 berjudul “Inspirasi, Fondasi dan Garis Besar” telah terbit pada Maret 2017. Sama seperti sumber inspirasinya, yakni Titik Ba, Matematika Detik mendapat apresiasi dari rektor ITB. Kali ini, Prof.Dr.Ir.Kadarsah Suryadi, DEA, melalui pesan Whatsapp mengatakan, “Selamat, Mas Thoha, atas sebuah karya yang luar-biasa.”
Tidak seperti sarjana yang baru mentas dari kampus, yang tidak sadar bahwa ijazahnya lebih berfungsi sebagai kuitansi ketimbang bekal hidup, yang bingung mau ke mana, sekarang tantangan hidup terang-benderang. Tidak lebih mudah, hanya lebih jelas. Ada benarnya pepatah yang mengatakan, “Life begins at forty.”
MENYAMBUT USIA 40 TAHUN
Kalender masehi (solar system) dan hijriyah (lunar system) berbeda sekitar 11 hari dalam setahun. Berdasarkan kalender hijriyah, pada Senin Pahing tanggal 25 Sya’ban 1438 bertepatan dengan tanggal 22 Mei 2017 genap sudah usia saya 40 tahun. Dalam kalender matahari adalah 31 Juli 2018, berselisih 1 tahun 70 hari lebih lambat. Setiap manusia yang diberkahi usia melampaui 40 tahun melalui masa istimewa tersebut.
Benarkah istimewa? Jika kita menganggap usia 40 tahun itu sebagai sesuatu yang istimewa, maka jadilah ia istimewa. Jika tidak, ya tidak. Realitas—apalagi realitas sosial—adalah apa yang kita persepsikan. Bagaimana dengan anda?Namun, al-Qur’an tepatnya pada al-Ahqaf (46):15, menyatakan bilangan 40 dalam umur manusia. Artinya usia 40 tahun adalah istimewa. Pastilah bukan kebetulan tugas kenabian da tang kepada para nabi pada saat mereka berusia 40 tahun. Jadi, inilah momentum yang tepat untuk Titik Ba untuk terlahir kembali.
Kali pertama Titik Ba terbit pada 2007 tatkala usia saya masih kepala dua. Apakah rambut cukup beruban untuk mengusung karya seberat itu? Apakah buku yang saya tulis bukan sebentuk sikap overconfident? Saya telah menjawab hal itu pada Kata Pengantar satu dekade lalu dan tidak perlu ada pengulangan di sini. Yang jelas, pada catatan sejarah, membuat karya penting sebelum usia 40 tahun adalah lumrah. “Semua yang benar-benar baru hanya ditemukan semasa muda,” keluh Einstein kepada seorang teman setelah menyelesaikan karyanya dalam relativitas umum dan kosmologi. “Kemudian, seseorang menjadi lebih berpengalaman, lebih terkenal—dan lebih bebal.”
Dunia, Indonesia, Tegal dan keluarga kami tidak sama lagi dibanding satu dasawarsa lalu. Athiyya Hanifatin, anak kami yang ketiga, lahir pada 11 Juni 2017. Sekitar 3 minggu kemudian, Gojek—yakni ojek dan taksi online—resmi hadir di Tegal. Keduanya benar-benar mengubah pola hidup kami sekeluarga.
Di tengah perubahan yang bergegas, ternyata konten Titik Ba tetap relevan, bahkan terasa semakin relevan. Tentu ada sejumlah konten yang tidak saya tidak setuju lagi, saya menentang pendapat saya sendiri, tapi itu hanya sedikit dan remeh-temeh. Secara umum, terhadap karya yang ditulis 10 tahun ini saya bersepakat bahkan dengan kualitas keyakinan yang semakin kuat.
Seiring waktu, saya semakin meyakini kemanfaatan paradigma Titik Ba, sebuah simbol sederhana yang melambangkan puncak dari pengalaman spiritual dan intelektual yang konon sudah ada sejak lebih dari seribu tahun yang lalu—sejak sahabat Nabi memberi titik semata wayang untuk huruf ba pada teks al-Qur’an. Ketika membaca apapun, baik yang terbentang di atas kertas maupun di atas pentas jagad raya, tidak lagi saya temukan keresahan atau kebingungan besar, justru sebaliknya yang selalu saya tangkap adalah keutuhan dan ketakjuban. Tidak ada lagi kegilaan yang saya—dan semua orang terdekat—cemaskan. Apa yang tertinggal dan perlu ditaklukkan adalah perincian kecil tapi konkret; pekerjaan insinyur, bukan filsuf. Semoga saja hal itu bukan pertanda—seperti yang dikhawatirkan Einstein pada orang yang memasuki usia 40 tahun—saya mulai mengidap kebebalan.
Saya tidak sedang mengajak anda bersepakat dengan saya, dengan Titik Ba. Saya percaya, panduan hidup paling jernih ada dalam diri setiap orang dan itu selalu tak terbahasakan. Oleh karena itu, melalui Titik Ba, saya hanya ingin menjadi sahabat terdekat anda untuk menemukan siapa diri anda sendiri.
CATATAN TITIK BA EDISI REBORN

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *