“2015-2017, Matematika Detik telah mengukir prestasi yang luar-biasa. Sebaiknya tidak diulangi lagi,” saya selalu mengatakan hal itu kepada setiap kawan di PPMD (Perhimpunan Pengembangan Matematika Detik).

Luar-biasa? Ya. Tanpa campur tangan al-Lathif al-Khabir, mustahil semua pencapaian lebih dari dua tahun terakhir itu. Puluhan ribu siswa dan guru, ratusan sekolah telah mengenal Matematika Detik, khususnya di Kota dan Kabupaten Tegal. Bahkan menyeberang lautan, ke Pulau Lombok (NTB) dan Palembang (Sumatera Selatan).

Bagaimana lanjutannya?

Sebenarnya yang selama ini tersosialisasikan melalui Kampung Matematika Detik mungkin belum sampai 1 persen. Yaitu, baru diagnosis dangkal tentang TOSM (Test of Second Mathematics) Level A1. Ada diagnosis mendalam, sebelum terapi. Ada level A1, A2 dan A3 sebelum Level B, C dan D.

Terus?

Ketika Wakil Bupati Tegal, Hj Umi Azizah, menyatakan Matematika Detik akan menjadi bagian visi-misi Kabupaten Tegal, dan sementara itu pihak PT Intan Pariwara sudah menagih buku seri kedua, maka sekarang fokusnya sangat jelas. Yaitu, mempersiapkan detail cetak biru Kampung Matematika Detik, dan bagian utamanya tentu saja buku Matematika Detik seri ke-2 BACA ANGKA SECEPAT BACA KATA.

Sekarang, fase kepompong. Seolah tidak ada aktivitas, tapi hampir siang-malam saya bergelut dengan #MatematikaDetik. Mengulang prestasi sebelumnya jelas tidak menarik, karena ini saatnya persiapan menapak jenjang berikutnya.

“Matematika Detik adalah sebuah karya yang luar-biasa,” demikian kiriman pesan WhatsApp dari Rektor ITB, Prof Kadarsah Suryadi. Kalimat itu sebagai lambang bahwa tahap teoretis Matematika Detik sudah selesai. Saatnya ke tahap rincian aplikatif-praktis. Dan itu artinya tidak mudah.

http://matematikadetik.com/kampung-matematika-detik-apa-ka…/

Foto Matematika Detik.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *