Semua dzikir adalah upaya untuk menyadarkan diri, bahwa segalanya satu, utuh tak terbagi dan sejatinya tidak ada, bahwa setiap diri adalah sangat dicintai oleh الرحمن الرحيم. Menganggap diri ada dan meragukan cinta-Nya adalah sumber segala derita.

Menjelang usia 40 tahun, dengan cara Dia, saya dipaksa belajar tentang #TitikBa.

40 tahun adalah usia istimewa. Sebagai kado saya berusaha supaya Titik Ba terbit kembali. Sudah lama saya kurang serius, inilah saatnya.

Namun, Titik Ba muncul kembali dengan cara tak terduga. Berawal dengan pertemuan kebetulan dengan orang tidak dikenal di Jakarta, Agustus 2017. Berlanjut mengisi kajian Titik Ba, di Kampung Adat Kuta, Ciamis, Desember 2017.

Januari 2018, sebagai PNS, saya mendapat sanksi berat yang berujung pada pemecatan pada April 2018. Sebuah peristiwa yang sangat mengguncang. Tagar #GagasanVsCoblosan digelar.

31 Maret 2018, tiba-tiba diundang memperkenalkan Titik Ba dan Matematika Detik di komunitas aktivis Salman ITB.

Mei 2018, beberapa kali diundang memperkenalkan Titik Ba di komunitas NU.

Juli 2018, tepat pada usia 40 tahun Titik Ba terbit kembali, dari Jakarta. September 2018, peluncuran di Kota Tegal.

31 Oktober – 1 November 2018, diundang memperkenalkan Titik Ba di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, yang sedang genap berusia satu abad.

Titik Ba: segalanya satu, utuh tak terbagi dan sejatinya tidak ada.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan orang berdiri
Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk dan dalam ruangan
Gambar mungkin berisi: 1 orang, teks
Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
Gambar mungkin berisi: teks
40 TAHUN, MAU KE MANA?

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *